|
|
Panorama
pegunungan sore hari yang sangat memakau dihati.Apalagi kali ini pemandangan
yang indah itu diatasnya berhiaskan sebuah
pelangi yang muncul setelah turunnya hujan tadi siang dan tampak
lebih indah daripada biasanya dan pemandangan yang indah itu seolah-olah telah
memikat para insan yang melihatnya. Bahkan aku sendiri yang masih duduk
termenung didepan jendela kamarku yang sedari tadi memandanginya tanpa henti.Sedangkan
diluar sana,banyak sekali anak-anak sedang
bermain diluar rumah yang bisa juga aku lihat dari jendela kamarku.
Tanpa
diminta, otakku memutar kembali ingatan tentang masa laluku.Masa lalu dimana
tak ada seorang pun yang mau bersahabat denganku.Tidak mau mengerti keadaanku.Kepiluan
dan kesedihan mulai beranjak mengisi hari-hariku semenjak mereka tahu jika aku
memang berbeda dengan mereka.Itu disebabkan karena aku seperti wanita alias
banci.Ternyata lingkunganku belum bisa menerima kehadiranku.
Aku
ingin seperti mereka yang bisa menatap dunia ini sebagai kebahagiaan yang nyata
dengan kesempurnaan yang Tuhan kasih, tapi kini aku hanya bisa menatap dan melihat teman-temanku dari jauh
ketika mereka bermain dan bercanda ria,seandainya aku bisa kembali di masa
kecilku.Aku ingin bermain sama mereka Tuhan, apakah aku tidak pantas menjadi
teman mereka karena sikapku seperti
wanita.Apakah aku menjijikan dan harus dibuang.
Saat terindah itu hilang dari hidupku ketika
aku beranjak remaja, bila teman-temanku terlihat sempurna dimata yang lain,
tidak begitu denganku.Semua bagiku terasa semu dan teman-temanku serta orang
lain maupun tetanggaku sendiri malah mengejekku dan mencaciku serta menjauhiku
dan semua ini berawal ketika aku masih duduk di bangku SD kelas dua.Diri ini
merasa ada yang berbeda dengan teman-temanku yang lain, mereka selalu memanggilku
" BANCI atau BENCONG.” Sebuah nama baru yang aku sandang tanpa pemikiran
dan perasaan,masa namaku imam diganti dengan panggilan banci atau bencong
bahkan terkadang mereka juga memanggil aku mami dengan membalik namaku imam=
mami.
Awalnya
aku tidak peduli karena aku tidak pernah tahu apa yang mereka maksud.Setalah
aku menjadi remaja, aku baru merasakan kesedihan yang amat dalam ketika
celotehan kalimat itu dilontarkan padaku.Ternyata aku tidak sempurna yang aku
kira, lebih parahnya lagi mereka selain menghinaku, juga menguncilkanku dan
kritisnya mereka bukan saja menghina atau mengucilkan tapi terkadang mereka
suka melempari aku dengan batu kerikil supaya aku menjauh dari mereka tapi aku
selalu berusaha memaafkan mereka. Dunia ini memang kejam bagi orang seperti aku
ini.
***
Aku
terbangun dari lamunanku setelah ibu memanggilku untuk mandi.Sore berganti
malam dan akhirnya berganti menjadi pagi.Mentari pagi masih sembunyi dibalik
awan.Suhu dingin dipagi hari membuat aku sedikit malas untuk berangkat sekolah.Tapi
bagaimanapun aku harus tetap berangkat dan tak lupa juga aku membawa sebuah
surat cinta buat orang yang aku sukai yang bernama yasha.Seorang gadis cantik
yang ada dalam kelasku.Dia adalah bidadari yang selalu menghiasi hidupku selama
satu tahun ini.Aku sembunyikan perasaanku ini rapat-rapat dan baru kali ini aku
ingin mengukapkannya.Sesampainya aku dikelas tanpa pikir panjang aku kasih
surat cinta itu ke yasha dengan perasaan yang berdebar-debar.
“
surat cinta….” Tukas yasha sembari melototi surat itu.
“
iya..aku jatuh cinta sama kamu…” ucapku dengan lirih.
“
sulit dipercaya, bukannya kamu suka sama cowo’” cetus yasha tanpa perasaan.
Blaar!
Perasaanku terasa tersambar petir kali ini.Mataku nanar dan rasanya ingin
nangis.Teganya yasha berkata seperti itu padaku.Tak ada perasaan sama sekali.Ternyata
sikapku seperti wanita selama ini berdampak pula terhadap perasaanku kepada
yasha.Semua sulit diduga.Aku terus berdiri didepannya sambil menahan rasa sakit
ini.Selang beberapa menit kemudian yasha menyobek-nyobek surat cinta itu dan
melemparnya tepat di depan wajahku.Dan setelah itu ia pergi dari hadapanku
tanpa merasa bersalah sama sekali.Semua anak-anak yang ada dikelas tak luput
dari pandangan kejadian itu dan mereka malah menyorakiku tanpa rasa kasihan
sedikitpun.
Akupun
berlari keluar kelas menuju mushola sekolah sembari menahan airmata
ini.Sesampainya aku sampai di mushola, aku langsung ambil air wudlu.Aku
bersihkan diriku dengan air suci ini dengan perasaan yang begitu galau dan
pilu.Tak lama kemudian aku mulai memasuki mushola dan menunaikan sholat dluha
untuk menenangkan diriku yang terbakar api kehidupan.Aku sujudkan diriku di
sajadah suci dan air mataku sedikit demi sedikit menetes tanpa henti.
Salahkah
Tuhan aku mencintai seorang wanita dansalahkah aku ingin dicintai. Kenapa
mereka begitu sensi padaku.Padahal engkau tahu Tuhan aku juga tidak mau
diciptakan sebagai banci.Aku juga sudah berusaha untuk merubahnya, Tuhan, tapi
kenapa masih ada orang yang tidak suka denganku bahkan yasha, wanita yang aku
cintai.Sekarang dia malah risih denganku.Salahku apa Tuhan sehingga begitu
banyak orang yang tidak suka akan keberadaanku ini.
Tiba-tiba
tanpa disadari ada seseorang menepuk pundakku dengan pelan ketika aku duduk
menghadap kiblat.Aku pun menoleh dengan pelan.Ternyata seorang kakek
berjubah.Berjenggot putih panjang dan memakai kopyah di kepalanya.
“
kakek siapa?”. Tanyaku.
“
ikut aku nak, jika kau tidak mau terus bersedih.” Ajak kakek itu.
“
memang kakek bisa merubahku seperti laki-laki.” Tanyaku lagi.
Kakek
itu menganggukkan kepalanya.Dan aku sedikit ragu tapi aku tidak punya pilihan
lain,Aku mengikuti ajakan kakek itu.Dan akhirnya kakek tua itu mengajakku ke
sebuah pondok pesantren yang tidak aku duga sebelumnya.Hari demi hari, bulan
demi bulan aku habiskan waktukku dipondok pesantren ini,Dan aku sudah
melupakkan diriku sendiri bahkan keluargaku sendiri dan apalagi masalah cinta
ke yasha yang ditolak mentah-mentah sudah tidak ada bayangan lagi
tentangnya.Sepertinya aku sudah dicuci otak disini.Kita disini diajari yang
namanya jihad tepatnya berjihad dengan bom bunuh diri.Menjadi teroris,
begitulah tepatnya.Jujur ini bukan diriku dan bukan cita-citaku tapi aku juga
tidak bisa keluar dari tempat ini.Otakku terasa dikendalikan oleh orang-orang
yang mengaku berjihad dan memakai jubbah itu.Tetapi pikiran picikku terkadang
juga muncul bahwa ada baikknya juga aku jadi teroris yang melakukan bom bunuh
diri daripada aku diluar sana dikucilkan mereka yang tidak suka sama aku lebih
baik aku mati bersama mereka dengan bom bunuh diri ini.Agar kesedihan itu tak
kunjung kembali dalam hidupku.Dan mereka tidak bisa menghina orang lain lagi
sesperti diriku.Tetapi aku juga terkadang berpikir bahwa perbuatan ini dosa
karena akan membunuh banyak orang.Entahlah, aku tak tahu lagi apa yang harus
aku lakukan semua sudah terlanjur aku masuk komplotan teroris ini.Lembah sesat
yang akan membawa aku dalam kehidupan berantai setan.Hati kecilku selalu
berkata bahwa ini bukan jihad tapi pembunuhan masal dengan sengaja, kalau
seandainya saja orang-orang maupun temanku memperlakukan aku dengan baik dan
menerima kondisiku yang sebenarnya, pasti aku tidak akan seperti ini.
***
Satu
tahun kemudian.Keluargaku masih mencari keberadaanku hingga mereka melibatkan
polisi untuk mencariku.Dan pada akhirnya mereka menemukanku disaat aku mau
melakukan aksi bom bunuh diri disekolahku tepatnya di sebuah mushola yang penuh dengan anak-anak yang mau melakukan
ibadah dan termasuk teman-temanku yang selalu mengejek dan merendahkanku.Polisi
sudah berhasil menahan tanganku dan sekaligus meringkusku.Dan ibu beserta ayah
dan sekaligus saudaraku ikut serta dalam pencarianku dan mereka berkumpul
mengempungku dan tentunya juga seisi sekolah gempar adanya bom yang mellilit di
tubuhku.Ibu sedikit demi sedikit mendekatiku.“ jangan mendekat bu, bom ini akan
segera meledak…” cegahku ke ibu. Walau aku sempat lupa akan keluargaku ketika
mereka berada didepanku dengan nyata maka ingatanku sedikit terpulihkan terutama
bagi ibuku karena dia segalanya.
“
anakku..kenapa kamu lakukan ini..” Tanya ibu dengan mata yang berkaca-kaca.
“tak
seorangpun yang mau menghargaiku bu, aku dianggap sampah yang harus dibuang,aku
juga manusia bu, yang perlu dihormati dan disayang bukan untuk dikucilkan atau
dihina.Aku tahu bahwa ini dosa tapi apalah arti dosa jika aku harus terus
menderita bu,..” teriakku diingiring isak tangis.
“
ibu mengerti tapi apa gunanya kamu melakukan seperti ini, semua bisa dirubah
nak..”
“
tidak bu, ibu tidak mengerti.kalau ibu mengerti, coba, siapakah aku ini bu,
siapakah aku bu..?
DOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOORRRRRRRRRRRR!!!!!!!
Bom itu akhirnya meledak dan semua orang yang ada di sekitarku ikut terkena
ledakan itu.Bom itu akhirnya memakan korban termasuk aku.Harapanku untuk
dicintai harus pupus begitu saja atau memang tidak ada harapan bagi orang
seperti aku ini.Jika Tuhan bisa menjelaskan siapakah aku ini melaui
ayat-ayatnya maka aku akan senang bisa mendengarnya dan aku tidak akan hidup
hanya penuh dengan harapan palsu.
Cerpen ini pernah mengikuti lomba Siapakah Aku Ini Tuhan dand menduduki peringkat 26 dari 100an lebih peserta.

No comments:
Post a Comment