Showing posts with label #Puisi sedih#Puisipatahhati#puisicinta#puisiremaja#puisiperjuangan. Show all posts
Showing posts with label #Puisi sedih#Puisipatahhati#puisicinta#puisiremaja#puisiperjuangan. Show all posts

#Cerpen Romantis dan Percintaan #CerpenMemanusiakandirisendiri

Be Mine Love

 

“Lebih baik aku mati, aku sudah kehilangan harkat dan martabatku sebagai seorang wanita gara-gara cowok brengsek itu. Tuhan, kenapa semua ini harus terjadi pada hidupku…aaaaaa” teriakku dengan penuh emosi.

 

Aku yang berdiri tegak diatas gedung sekolah. Berniat ingin bunuh diri karena sebuah harga diri yang sudah tidak bisa dihargai lagi. Ulahku sendiri karena memohon cinta yang tak pasti kepada cowok  yang aku cintai. Aku lupa menghargai diriku hanya karena sebuah cinta.

 

Siswa-siswi dan guru-guru sudah saling berusaha menenangkanku dari bawah gedung. Aku berusaha loncat dan mengakhiri hidup ini. Tiba-tiba ada seorang cowok dari arah belakangku bergeming.

 

“Memang dengan kamu bunuh diri, kamu bisa mengembalikan harga dirimu atau harkat dan martabatmu yang selama ini terinjak-injak olehnya.” Kata cowok itu.

 

Aku terdiam. Aku tetap kekeh berusaha menolak kenyataan yang terjadi. Benakku memutar kembali peristiwa apa yang terjadi sebelumnya. Semua terekam jelas tanpa buram sama sekali. Luka itu menyayat hatiku sedalam ini.  

 

Plakkk…

 

Tamparan itu menghempas pipiku yang kesekian kalinya. Airmataku menetes pilu. Mahen masih menatapku penuh emosi. Aku terjatuh tepat dibawah kakinya.

 

“Sudah berapa kali aku bilang kita itu sudah putus sejak Anniversari jadian kita yang kemaren, Shasa Sastranegara.” ujar dia tegas tanpa perasaan.   

 

Aku berdiri dengan menguatkan hati yang begitu rapuh. Bibirku kelu menatap dia penuh cinta. Ia membalikkan badannya untuk pergi. Langkahnya pasti.

 

“Tapi apa alasannya, kamu putusin aku begitu saja tanpa alasan yang jelas, hen.” teriakku.

 

Mahen berusaha membalikkan badannya dan menatapku dari jauh.

 

“Keadaan yang membuat kita harus putus, kita sudah tidak sejalan lagi…” tukasnya dengan penuh emosi.

 

Airmataku semakin deras. Andai dia tahu jika aku masih mencintainya dengen sepenuh hati.

 

“Jangan ganggu aku lagi, Shasa Sastranegara..” pintanya penuh penekanan.

 

Hatiku semakin hancur dan patah. Kala itu juga, tiba-tiba hujan jatuh membasahi bumi. Suara gemuruh hujan dan petir saling bersahutan. Mahen berlari menembus hujan yang begitu deras. Sementara aku tersungkur ke tanah dan tak berdaya dengan tangisan tak terbendung.

 

Mahen meninggalkanku sendirian di taman itu. Aku yang masih memakai seragam SMA basah kuyup tanpa ada yang peduli. Tangisanku semakin menjadi karena hatiku sudah berhasil dipatahkan oleh orang yang begitu aku cintai. Padahal apapun aku lakukan untuk dia. Apa dia tidak ingat jika kita pacaran sudah sejak kelas satu SMA. Dua tahun sudah kita jalani bersama namun tiba-tiba dia berubah dengan sebuah alasan keadaan yang tak sejalan.

 

Sebelumnya dia memang memutuskan hubungan ini ketika aniversari kedua kemaren. Tepat hari peringatan jadian kita Mahen mengakhiri hubungan ini. Namun aku masih terobsesi bahwa Mahen adalah cinta sejati yang selama ini aku cari. Entah mengapa hingga detik ini aku belum sempat move on darinya. Aku masih memohon dia kembali.

 

Iya, mungkin aku adalah wanita yang tak punya harga diri. Aku tidak bisa menghargai diriku sendiri hanya karena sebuah cinta tanpa kepastian. Mungkin aku sudah gila dengan laki-laki itu. Sosok Mahen yang keren dan dingin. Asal tahu saja, aku hanya ingin menuntut Hak atas cintaku kepadanya. Aku tidak terima alasan dia mengakhiri hubungan ini.

 

***

Matahari tepat di atas kepalaku. Mataku berusaha menyelidik dan mencari sosok Mahen di lapangan basket sekolah itu. Ini sudah memasuki hari ketujuh aku memohon agar Mahen kembali padaku. Aku tahu seharusnya aku berhenti melakukan tindakan bodoh ini. Aku merasa harga diriku sebagai seorang wanita sudah diinjak-injak olehnya.

Hahaahahhahhaahhaah…..

Aku benar benar sudah gila. Tergila-gila atas nama cinta. Terobsesi yang aku anggap sebuah cinta sejati. Aku menghela nafas perlahan dengan sebuah harapan dia muncul dihadapanku.

“Sha…”

Sebuah suara lirih terdengar sayup. Aku terperangah dan berusaha memutar kepalaku ke kiri. Aku kenal sekali suara itu. Iya itu suara Mahen dari arah belakangku. Tiba-tiba tangannya menyentuh pundakku. Dia berdiri tegak dihadapanku, wajahnya kelabu seolah dia tak ingin aku ganggu lagi. Tatapannya tajam dan tiba-tiba dia tersenyum kecut padaku.

Mahen mengajakku ke perpus. Aku merasa ada sambutan cintaku kembali dalam hatinya. Kita duduk di ruang baca. Aku merasa mendapatkannya dia kembali.

“Sha, aku bahagia sha…” cakap Mahen sambil senyum manis.

Aku sambut senyuman dia dengan penuh sukacita.

“Aku sudah mendapatkan penggantimu, Sha….” Lanjut Mahen.

Hatiku terasa tersambar petir ketika mendengar berita itu. Airmataku mulai membasahi pipiku dengan diam seribu bahasa. Senyuman manis yang aku torehkan tadi berubah sayu dan kecut. Tetesan airmataku mulai jatuh membasahi meja.

“Aku merasa nyaman dan bahagia banget sama dia, Sha. Aku percaya dia adalah cinta sejatiku yang selama aku cari, setelah lulus nanti aku akan melamar dia dan menikahinya” lanjut Mahen bercerita sambil menatap Shasha.

Aku hanya tersenyum namun airmataku mengalir deras didepannya. Isak tangisku mulai bergemuruh. Hatiku hancur berkeping-keping.

Seharusnya sejak awal aku tak pernah berharap cinta yang sudah tak bisa dipertahankan. Aku itu cuma ingin memperjuangkan hak asasi manusia atas cinta. Hati perempuan mana yang tidak sakit ketika kekasih hatinya tiba-tiba mengakhiri hubungan ini hanya karena keadaan yang menurut dia tak sejalan. Sayangnya, Mahen tidak menjelaskan keadaan yang mana yang tak sejalan. Menurutku alasan itu klise dan andai saja aku tak percaya bahwa dia bukan cinta sejatiku, mungkin aku tak perlu mempertaruhkan harga diriku sebagai seorang wanita.

Pevita-sahabatku tiba-tiba datang menghampiri kita. Aku langsung berdiri dan memeluknya erat dengan tangisan yang menggebu.

“Sha, aku tahu betapa hancurnya hatimu. Kamu sudah mempertaruhkan harkat dan martabatmu sebagai seorang wanita, sabar ya Sha…” ceritaku kepadanya.

Aku melepaskan pelukan itu dan menatap Pevita penuh sendu. Seketika itu Mahen berdiri dan menatapku tajam.

“Sha, kenalkan ini kekasih kekasihku-Pevita…”terus terang Mahen.

Aku tersentak bagaikan serangan jatung seketika itu. Mulutku seolah tak bias berkata-kata. Sementara airmataku semakin deras mengalir membasahi pipiku.

“Kamu tega ta, mengkhianati sahabatmu sendiri. Padahal kamu tahukan harga diriku, harkat dan martabatku sebagai taruhanya hingga aku tidak menghiraukan apa arti menghargai diriku sendiri sebagai seorang perempuan, bahkan hanya gara-gara cinta ke cowok brengsek ini aku lupa memanusikan diriku sendiri..” Marahku begitu penuh emosional dan menatap Pevita penuh amarah.

Pevita hanya terdiam. Dia bingung ingin berkata apa untuk membela dirinya. Mahen berusaha menyingkirkan dari hadapan Pevita namun aku berusaha menghempasnya.

“Dan satu hal lagi, Ta. Kamu dan Mahen adalah orang yang tidak bisa memanusiakan manusia lain walau itu sahabatmu sendiri…” ujarku sambil menuding- nuding mereka.

“Semoga kalian bahagia, semoga Mahen bias membuatmu bahagia dan tidak menduakmu seperti yang dilakukannya kepadaku..” lanjutku penuh dengan kebencian.

Aku pergi dari tempat itu dengan perasaan begitu hancur yang lipat-lipat. Rasanya dunia ini runtuh dan gelap. Aku menyesal telah memohon cinta pada manusia yang aku anggap cinta sejatiku. Aku menyesal telah membiarkan harga diriku diinjak-injak cowok itu. Harkat dan martabatku seolah sudah tidak berharga lagi.

***

Pikiranku kembali  ke cowok misterius yang berusaha membuka pikiranku dari perbuatan bunuh diri. Aku masih berada diatas gedung itu dan cowok itu masih dibelakangku dengan segala ceramahnya.

 

“Tuhan tidak akan menerima rohmu dan akan  kamu tidak akan pernah bahagia meskipun kau mati, masalah tidak akan selesai jika kamu mati begitu saja, Shaha Sastranegara..” ucapnya.

 

Dia tahu nama lengkapku. Aku berusaha meliriknya.

 

“Siapa kamu….”

 

“Makanya jadi cewek jangan gampangan…”

 

“Cukup…”

 

Aku memutarkan tubuh ini ke hadapannya. Aku berusaha maju mengahmpiri cowok itu. Cowok cupu tapi penuh kahrisma. Bila terus ditatap ia sangat amat tampan dibalik kaca matanya.

 

“Seharusnya kamu bisa memanusiakan dirimu sendiri, tidak ceroboh mempertaruhkan harga diri demi cinta. Cinta bukan segalanya namu hidup perlu cinta untuk saling bahagia...” tukasnya pasti.

 

“Terus saja mengolok-olokku..” ujarku.

 

“Lain kali jadi cewek pandailah menghargai dirimu sendiri...” cetus dia sambil meninggalkan ku secara perlahan.

 

Cowok itu berhenti bergerak dari langkahnya. Lalu kembali memutarkan tubuhnya dan melempar senyum untukku.

 

“Oh ya, kenalkan aku Aldo, aku murid pindahan dari Surabaya, salam kenal Sasha Sastranegara….” lanjutnya lagi lalu pergi begitu saja.

 

Aku mulai merenungkan semua perkataannya tadi. Aku mulai gelisah dengan hidupku. Aku pun langsung tersungkur diatas gedung itu. Mulai menangis lagi dengan apa yang barusan akan aku lakukan. Bunuh diri karena cinta, seharusnya itu tidak pernah terjadi. Mulai detik ini, aku harus pura-pura melupakan tidak pernah terjadi apa-apa dalam hidupku maupun cintaku di masa lalu. Cukup, kali ini aku tersakiti olehnya.  

_-Sekian-

Karya   : Imam Aris Sugianto

Puisi Patah Hati



LUKA


Seindah patah hati tak mungkin lagi cinta bersemi
Melukis luka hati hingga tangis mengurai deras tak kering lagi
Bukan karena aku tak sanggup lagi tanpamu
Tapi lukaku amat dalam hingga menusuk relung sanubari

Patah hatiku karena sayap cintaku tak akan lagi terbang bersamamu
Kamu tahu jika hati ini selalu berharap akan dirimu
Kamu tahu jika hati ini selalu berharap balas cintamu
Tapi pupus sudah cintaku padamu ketika undangan pernikahanmu hinggap ditanganku

Kamu tak tahu jika pernikahanmu itu luka bagiku
Lukaku tak sanggup melihat pelaminanmu bersama mempelaimu
Aku tahu cintamu bukan untukku
Aku bukan takdirmu  untuk menemanimu tapi aku sangat mencintaimu

Sepi hatiku karena tak bisaku berharap lagi hadirmu seperti dulu
Cukup aku yang merasakan semua cinta tak pasti ini
Mencintaimu hanya ilusi bagiku dan tak mungkin bersatu
Hanya luka yang akan aku dapatkan dari mencintaimu
Sudah lah aku lepaskan kamu bersama dia yang menjadi tulang rusukmu

Aku harap kamu bahagia dengan hidupmu yang baru
Walau hatiku luka dan patah tak berujung
Aku tetap simpan cinta ini untukmu hingga Tuhan mempertemukanku dengan penggantimu
Demi cintaku padamu, relaku kau bersamanya

Semoga Tuhan melapangkan hati yang luka ini
Menabahkan kalbu yang teriris sakit dengan undangan pernikahanmu
Cintai dia sepenuh hatimu dan jangan kau lukai dia dengan cintamu
Biarlah aku yang menikmati luka ini  karena cintaku padamu  yang tak pernah kau tahu….

Bojonegoro, 13 Januari 2017
Karya  : Imam Aris Sugianto
IG       : imamariss_

Puisi Corona Virus

JENGGALA BAGI CORONA VIRUS Dunia menjadi jenggala bagi virus corona yang merajalela Sedetikpun, ia tak akan berhenti bergerilya meracun...