Pelog
reog ponorogo terdengar merdu ditelinga.Bunyi gamelan tersebut seolah-olah
mengisi ruang desaku.Aksi-aksiku dan teman-teman dalam reog ponorogo kali ini
telah membuat banyak orang terkesima.Semua penduduk desa tampak semangat
dan terhibur dalam menonton pertunjukan disebuah acara sunatan anak kepala desa
tersebut.Aku memang sudah dua tahun ini terlibat dalam kesenian tradisonal
didaerahku, sebenarnya kesenian yang sering disebut-sebut reog ponorogo ini di
daerahku disebut gemblak, bukan reog
ponorogo.Memang gemblak adalah salah satu jenis kesenian semacam reog ponorogo,
dan semuanya aksi-aksinya dalam kesenian ini juga sama persis dengan reog
ponorogo.
Mungkin hanya saja
namanya beda tapi pada intinya kesenian tradisional ini sama saja.Semua kesenian
tradisonal semacam ini atau lainnya perlu sekali untuk dilestarikan supaya
tidak dipatenkan negara lain yang suka dengan kesenian negara kita Indonesia
ini.Aku ikut bergabung dalam kesenian tradisional ini selain ingin
melestarikannya juga untuk mencari uang untuk membayar uang sekolah seperti
SPP, uang LKS dan biaya iuran lainnya.Awalnya memang aku ikut bergabung
dengan seni ini untuk memenuhi kebutuhan
sekolahku yang terbengkalai karena biaya tapi lambat laun aku merasa ada ikatan
batin dengannya.
Didunia ini aku
hidup bersama nenekku, maklum kedua orang tuaku sudah pergi ke surga dan tidak
ada lagi didunia ini.Semenjak kepergiaan mereka aku hidup bersama nenekku
tercinta walau saudara-saudaraku atau bisa dibilang anak-anak nenek lainnya
tidak suka terhadapku.Mereka sangat benci denganku, Entahlah apa yang membuat
mereka begitu bencinya denganku tapi aku pun terima dengan ikhlas.Aku tinggal
disebuah desa yang bernama Taji dusun Karangpoh kecamatan Tambakrejo Bojonegoro
Jawa timur.Desaku memang indah dan elok, apalagi jika sore hari tiba maka
pemandangan dari sebuah pematang sawah tampak indah dan sejuk ketika matahari
hampir kembali keperaduaannya.
Sekarang ini aku
masih duduk dibangku SMA kelas 3 IPA.Dan
aku sangat mencintai kebudayaan Indonesia lebih-lebih keseniannya yang bisa
membuatku terbawa kea wan.Rasa cintaku terhadap kesenian yang sering aku
panggil gemblak ini bisa membantuku
dalam biaya sekolah tingkat atas walau tidak sepenuhnya terkadang aku juga
mencari rosok (barang-barang bekas)
untuk dijual ke pengempul nantinya untuk tambahan keuanganku, semata-mata hanya
untuk biaya aku sekolah dan terkadang jika ada sisa aku berikan ke nenek.Apalagi
nenek hanya bekerja sebagai penjual baju dan kaos batik di pasar. Itupun barang
dagangannya juga bukan milikkya sendiri, intinya nenek menjual baju dan kaos batik
milik orang lain dan nanti jika sudah banyak terjual nenek baru mendapat upah
dari mereka.
***
Seusai
pertunjukan aku pun pulang ke rumah tentunya rumah siapa lagi kalau tidak rumah
nenek dan tentunya pula aku belum dapat
upah dari pertujukan tadi karena memang belum dikasih sama yang punya hajat.Dan
biasanya baru besuk lusa uag upah tersebut dikasih.Kali ini aku memasuki rumah
yang sederhana, berdinding kayu bamboo yang disulam dan tampak atap-atap rumah
sudah ada yang bolong.Tak lama kemudian nenek datang mengahmpiriku yang sedari
tadi duduk di kursi bambu sambil minum air kendi.
“ Rahmat, Uwes muleh, le..(sudah pulang
nak..).” Tanya nenek sembari duduk dibelakangku.
“ empun mbah..(sudah nek).” Jawabku santai
dan tenang.
Kemudian nenek
mengelus-ngelus rambutku dibarengi senyumnya yang indah dan menenangkan jiwaku.
Senja telah
muncul diufuk barat dan matahari sudah tenggelam.Suara adzan magrib sudah
menggetarkan jiwa bagi insan dipenjuru desa dan seperti biasa setiap sorenya aku segera bergegas ke mushola
atau kami sering menyebutnya langgar.Disana aku belajar ngaji sama kyai dan
juga mengajari anak-anak kecil mengaji dan diakhiri hingga isya tiba.
Seusai aku dari
mushola aku pun pulang ke rumah dan istirahat.Jika nantinya aku terbangun dalam
waktu sepertiga malam aku pun langsung sholat tahajud.Tetapi jika tidak berarti
Allah sudah mengaturnya.Tetapi aku selalu bangun subuh tepat waktu dan seusai
sholat subuh aku membantu nenek dulu untuk mengantar jualan pakaian batik yang
dijualnya ke pasar dan baru kemudian aku berangkat ke sekolah, tentunya dengan
jalan kaki, soalnya mau naik transportasi juga tidak punya dan tidak ada uang
saku pula.Jika jalan kaki jaraknya lumayan tidak terlalu jauh tapi aku harus
berangkat sepagi mungkin agar tidak telat walau aku harus melewati hutan-hutan
belantara dulu dan menyebarangi sungai setelah itu tiba disekolahku, maklum
daerahku masih dikelilingi dengan hutan dan sungai jadi sekolahnya terletak
diseberang desa.Dan bagiku uang saku tak begitu penting walau sebenarnya jika
ada temanku yang jajan rasanya juga ingin menikmatinya tapi apa daya aku ini,
aku harus bisa bersyukur karena aku masih bisa sekolah hingga tingkat
SMA.Bagiku pendidikan itu nomer satu.Sesungguhnya cita-citaku ingin menjadi
guru karena menurutku guru adalah profesi yang mulia dan sebagai pahlawan tanpa
tanda jasa yang bisa menularkan ilmu kepada murid-muridnya.Aku ingin sekali
suatu kelak nanti bisa memberikan ilmu-ilmuku kepada setiap anak bangsa yang
ada di Indonesia ini.
Sebenarnya sudah
tiga tahun lamanya aku belum membayar uang gedung yang diminta oleh sekolah
sebagai iuran pembangunan mushola dan lain-lainnya yang ada disekolah karena
uangku hanya cukup untuk bayar bulanannya atau SPP dan Buku LKS untuk pendoman
pelajaran.Ini adalah hambatan untukku jika tidak aku bayar maka aku tidak bisa
ikut ujian nasional nanti.Apalagi aku sudah kelas tiga dan sebentar lagi akan
ujian kelulusan.
“ kapan mau
bayar, rahmat? Sudah tiga tahun lho, kamu ini punya tunggakan!” Tanya Bu
umi-bendahara sekolah.
“ iya bu! Aku
mengerti, tapi tolong bu beri akuwaktu penangguhan sampai hari sebelum ujian
nasional.” Pintaku lirih.
“ Rahmat,
rahmat! Ibu sudah begitu sabar menunggumu untuk bayar, ujian nasional kurang seminggu
lho, baiklah karena kamu anak yatim piatu jadi ibu maklumi.dan ibu tahu kamu
sekolah dengan kerja kerasmu sendiri dengan mencari rosok dan menjadi seniman
gemblak.yo wes lah..aku tunggu yo…dan jangan lupa lunasi SPP bulan ini” kata bu umi sabar dan santai.
“ Terima kasih
bu atas pengertiannya…aku janji akan segera membayarnya minggu depan!” jawabku
serius dengan perasaan yang lega dan mata yang berbinar-binar karena terharu.
Selang beberapa
menit kemudian aku pun keluar dari ruang adminitrasi sekolah.Sebenarnya orang
seperti aku ini harus dapat keringan biaya tapi aku mengerti sekolahku ini
tergolong baru dan baru saja tiga tahun didirikan jadi belum ada beasiswa yang
masuk apalagi sekolah SMAku ini terdekat dengan desaku jadi kalau mau ke
sekolah tidak perlu biaya mahal bahkan bisa gratis untuk pergi kesana.
Disekolah
aku adalah salah satu murid terpandai dan selalu mendapat juara satu sekelas
maupun umum disekolahku.Sungguh luar biasa bagiku dan ini merupakan sebuah
anugerah tetapi ketika harus menghadapi biaya sekolah yang begitu besar dan
mahal aku sedikit rapuh tetapi bila aku
ingat Allah dan nenekku aku jadi semangat kembali untuk meraih cita-citaku
kelak.
Seperti sekarang
ini, seusai sekolah aku pun segera mungkin ganti pakaian tanpa harus makan
siang terlebih dahulu.Aku langsung saja luncurkan diriku keluar rumah untuk
mencari rosok dan ini sudah menjadi
kegiatanku sehari-hari.Mulai dari tumpukkan sampah aku cari-cari barang-barang
yang masih bisa digunakan dan bisa didaur ulang.Dan juga terkadang aku
mendapatkannya dari seorang warga yang sangat peduli padaku.Jika sudah selesai
dan katong yang ada dipunggungku penuh dengan rosok, aku pun segera membawanya
ke pengempul.Panasnya mentari tak bisa buat aku patah arang dan dinginnya air
hujan tak bisa membuakut putus asa untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah.Dan
semangatku tetap berkobar untuk masa depanku walau hatiku masih ragu untuk
melnjutkan ke perguruan tinggi pasti tentunya biaya yang sangat besar yang
harus dipersiapkan.
Malamnya aku
bongkar celenganku yang berbentuk ayam berkokok ini.Aku kumpulkan satu persatu
mulai uang kertas hingga uang koin.Aku
terus menghitungnya.
“ seribu,
seratus perak, lima ribu,…” gumamku.
Tak lama
kemudian nenek menghampiriku.
“ Loh, kok di pecah celengane le…kenopo? “
Tanya nenek serius.
Sebenarnya aku
tidak mau memberitahu nenek tentang pembayaran sekolahku tapi apakah aku harus
bohong.Selama ini nenek telah mengajariku agar tidak bohong tetap dengan
keyakinanku aku menarik nafas dalam –dalam dan mengelurakannnya kembali.
“ inggih mbah, kulo ba’dhe bayar uang gedung
lan BP3 ulan niki mbah (iya nek, aku mau bayar uang gedung dan SPP sekolah).”
Jawabku pelan dan jelas.
“ Cukup ga’ le.Yen urung cukup mbah isek duwe
duwit sisane opahe dodolan klambi batik,.(cukup tidak nak, kalau belum
cukup nenek masih punya uang dari upah jualan pakaian batik kemaren.)” tawar
nenek serius.
“ mboten mbah, empun! (tidak usah nek,
cukup!).” jawabku ragu.
“ lah, piye nek iki orang cukup..yo ga opo-opo.uwes
tak jupuk no duwete.
(bagaimana kalau tidak cukup, ya sudah tidak apa-apa. Biar nenek ambilkan
uangnya ya..)” ujar nenek sembari
melepaskan dirinya dari kamarku dan kemudian mengambil uang tersebut
dikamarnya.
Selagi nenek
mengambil uangnya dan mau membawanya ke kamarku, budhe sumini datang
menghampirinya ketika berada diruang tengah.Wajahnya budhe syarmini tampak
bengis dan matanya memancarkan rasa benci.
“ mbok, kok gowo duwit akeh men, kanggo sopo
iku.(bu, ko bawa uang banyak sekali, itu untuk siapa).” Tanya budhe sumini
dengan penasaran.
“ iku loh, ponakanmu, rahmat! Ape bayar sekolah
duwete kurang…mbok mumpung enek duwet yo tak bantu, lah nek rahmat duwe duwet
mbok e yo di wenehi kanggo blonjo. (itu loh, ponakanmu, rahmat! Mau bayar
sekolah uanganya kurang jadi mumpung ibu ada uang cukup ibu bantu dia, kan
itung-itung bantu cucu sendiri biasanya kan rahmat juga kasih ibu uang buat
belanja).” Jelas nenek dengan tenang.
“ ponak’an-ponak’an.enak wae! Emange de’e
sopo! Eling-eling mbok, ayu emake’ rahmat iku ora sopo-sopone kene, de’e cumak
anak angkat sing gowo aib nong kelurga kene,…ngerti to mbok.(Ponakan, gak
bakalan aku anggap ponakan! Memangnya dia siapa! Ingat-ingat bu, ayu ibunya
rahmat itu hanya anak angkat yang membawa aib dalam keluarga ini).” Tukas budhe
sumini dengan lantang.
Perkataan budhe
sumini terdengar begitu nyaring masuk kamarku dan membuatku sedih sehingga
airmataku pun jatuh membasahi pipiku.Apalagi ketika ibuku disebut sebagai
pembawa aib.Rasanya persaan ini bagai tersambar petir.Tetapi tampaknya nenek
tak menghiraukan kata-kata budhe sumini dengan seriu, buktinya dia tak meladeni
lagi percakapan budhe sumini tersebut dan lebih memilih segera masuk ke kamarku
dan memberikan uang itu ke aku.Aku pun dengan berat hati dan merasa bersalah
menggabungkan uang tersebut dengan uang yang ada dicelenganku ditambah uang
hasil jual rosok tadi siang dan ditambah lagi uang hasil main kesenian di rumah
kepala desa kemaren.Akhirnya aku pun merasa lega karena sudah ada uang untuk
membayar uang sekolah tersebut.Semoga selalu ada harapan untuk orang seperti aku ini untuk menjadi sukses suatu
kelak nanti dan bisa membahagiakan nenek.
***
Fajar
sudah menyising dari ufuk timur.Aku pun bergegas mandi setelah sholat
subuh.Tetapi budhe sumini sepertinya masuk kamarku,Entah apa yang dia cari tapi
aku tak tahu pasti.Aku hanya bisa berbaik sangka kepadanya.Aku pun dengan
tenang mandi di jambangan (semacam
tempat mandi dijawa) belakang rumah.Seusai aku mandi langsung saja aku bergegas
menuju kamarku dan tentu budhe sumini sudah tidak ada ditempat tersebut.Setelah
aku berseragam SMA dan hendak mengambil uang untuk bayar uang gedung dan SPP yang
sudah aku kumpulkan tadi malam.Ternyata uang tersebut taka da ditempatnya.
“Astagfirullahaldzim…uangnya
kemana.” Batinku
Dan aku pun
tertunduk lesu diatas kasur.Aku pun berfikir picik bahwa pasti budhe sumini
yang mengambil uang tersebut alias dia mencurinya.Aku tahu dia sangat benci
denganku semenjak ibuku berbuat salah dengan keluarga nenek dan membawa aib yang ia sebut tadi malam,
tapi kan ibu sudah meninggal tak seharusnya dia mengungkit-ungkit lagi masalh
tersebut dan tak seharusnya pula ia membenciku dan mencuri uangku tersebut.Aku
menangis dalam hati, padahal harapanku untuk membayar uang sekolah tersebut
sudah didepan mata.Tetapi dalam hatiku penuh keyakinan bahwa Allah sedang
mengujiku hari ini.
Aku langsung
bergegas mencari nenek untuk pamit sekolah dan masalah uangku yang hilang aku
sembunyikan dari nenek.Sesampainya aku melangkah didepan pintu, tiba-tiba
sebuah ide cermelang datang dalam otakku dan aku kembali ke nenek.Dan aku
meminta nenek untuk mengizikan aku ikut membantu menjual pakaian batiknya ke
sekolah hari ini.Dengan senang hati nenek pun mengizinkannya.Aku langsung bawa
pakaian-pakaian batik tersebut kes sekolah dengan hati riang.Dan sesampainya ke
sekolah aku langsung pamerkan dan pasarkan ke bapak dan ibu guru dikantor
sebelum jam kelas masuk.
“ Ibu-ibu,
bapak-bapak guru budiman! Baju batik ini sangat menciri khas kan Negara kita
Indonesia, dan apabila bapak dan ibu guru memakainya maka akan sangat
menghargai kebudayaan Indonesia ini.Dan cinta tanah air serasa melekat dijiwa
kita, apalagi ibu bapak guru membantu anak yatim piatu seperti saya
ini.Pastilah akan sangatlah bermanfaat.Dan ini semua aku lakukan untuk membayar
uang sekolahku dan membantu nenekku dirumah,…” kata-kataku dengan bermaksud
agar ibu dan bapak guru mau memebelinya walau mataku sedikit berkaca-kaca
karena mengingat pedihnya hidup yang penuh perjuangan.
“ memangnya satu
berapa, ini rahmat! Ibu mau beli, tertarik sekali,…” Tanya seseoarng guru
perempuan.
Dan semua
guru-guru lain juga pada berkerumun mengelilingi barang daganganku ini.
“ satu style
hanya Sembilan puluh ribu bu,..beli ya bu.” Kataku dengan penuh harap.
“ keluargamu
suka batik ya…” Tanya salah satu guru lagi.
“ SANGAT CINTA
DENGAN BATIK bu,…semenjak nenek saya masih muda.Dia selalu memakai batik setiap
harinya, maklum orang jawa asli bu, apalagi nenekku dulu orang jogja…akan
sangat membanggakan jika semua orang Indonesia tiap harinnya memakai batik,
pasti akan terasa sekali budaya itu di Negara kita bu, kami juga makan tiap
harinya dari hasil penjualan batik bu,
dari dulu sebelum oarangtuaku tiada..jadi batik sangat berjasa untuk keluarga
kami,,,,” jelasku dengan penuh penhayatan.
“ luar biasa ya!
ya sudah ibu beli satu style ya sama
bawahannya…” kata ibu guru itu lagi.
“ iya bu…..”
jawabku sambil membungkusnya.
“ ini barang
dagangan milik sendiri, rahmat.” Tanya ibu guru lagi.
“ Tidak bu, ini
semua milik para pemodal yang baik hati mau memberikan kepercayaan pada kami
untuk menjual barang dagangannya.” Tukasku jelas.
Akhirnya jualan
pakaian batik nenek pun laris diborong oleh guru-guru tersebut. Aku senang hari
ini dan sepulang sekolah aku pun memberikan uang tersebut ke nenek.Dan nenek
lekas memberikan uang hasil penjualan tersebut ke pemiliknya.Dan nenek pun
mendapatkan upahnya cukup lumayan untuk kebutuhan sehari-hari.Kali ini akupun
kembali dengan kegiatanku sehari-hari apalagi kalau bukan mencari rosok untuk
dibawa ke pengepul untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk mengganti uang
yang hilang buat bayar SPP, tapi enahlah sampai kapan uangnya akan terkumpul
mengingat uang gedung dan SPP yang lumayan besar bagi orang seperti aku ini.
Lambat hari
nenek pun tahu tentang masalahku kehilangan uang dan belum bayar uang
sekolah.Dan nenek relakan uangnya kemaren untuk diberikan ke aku buat bayar
uang gedung dan SPP tersebut.Tetapi pengorbanan yang nenek dan aku lakukan
tidak sampai disini ternyata uang yangdiberikan ke aku buat bayar itu
persediaan bua makan sehari-hari jadi selama dua hari dua malam kami berdua tak
makan dan hanya minum air putih sedangkan saudara-saudara kami tak peduli
dengan kami disini karena mereka sangat benci sekali denganku.Ini adalah cobaan
Tuhan yang sekian kalinya.
Tetapi walau
begitu uang gedung dan SPP sekolah akhirnya terbayar sudah dimuka bu
umi-pegawai administrasi disekolahku.Ada rasa lega dan bingung serta
sedih.Ternyata bagi orang sepertiku ini mau bayar sekolah saja harus berjuang
mati-matian dan hanya neneklah yang selalu menyemangatiku dan selalu sayang
sama aku.
Waktu terus
bergulir ujian akhir nasional pun sudah diambang pintu.Dan hari ini akan segera
dimulai, aku pun persiapankan diriku untuk menghadapinya hingga usai.Aku duduk
tenang dan pikiran segar kali ini.ati selalu berdoa agar Allah memberikan yang
terbaik bagiku hari ini dan esuk.Akhirnya ujian dimulai dan aku kerjakan dengan
tenang dan penuh kosentrasi.Seusai ujian akupu langsung pulang kerumah dan
langsung beljar lagi dan begitu seterusnya hingga ujian akhir sekolah selesai.
***
Tiga
hari telah berlalu.Dan ujian akhir nasioan telah usai.tinggal pengumuman yang
dirunggu.Rasa jatungku sebenarnya deg-degan apalagi kali ini bapak dan ibu guru
bertandang ke rumahku dan tepatnya juga mencariku.
“ ada apa ya
pak, bu..apakah ada pengumuman kelulusan sekolah disini.” Tanyaku dengan cemas.
“
tidak.pengumuman masih bulan juni.inikan baru bulan mei akhir, bapak dan ibu
guru kesini mau mengirim kamu sebagai perwakilan sekolah untuk mengikuti tes
masuk perguruan tinggi dengan status beasiswa dari dikti yang berkerjasama
dengan universitas terkemuka diindonesia, bagaiman rahmat kamu seteju.” Jelas
pak guru sekaligus menawarkannya ke aku.
Aku langsung
tersentak hebat.Dan langsung menoleh kearah nenekku dengan penuh harap dan
kembalikan mukaku ke hadapan bapak dan ibu guru.
“ beasiswa
pak,….” Tanyaku lagi dengan rasa tak percaya.
“ iya, ini
beasiswa bidik misi bagi anak yang tidak mampu untuk kuliah, tenang saja setiap
bulannya juga akan dapat bea hidup untuk hidup disana…” jelas ibu guru dengan
santai.
“ saya mau pak,
saya mau bu,…” teriakku senang.
Harapanku untuk
jadi seorang guru semakin menujukan jalan dari Allah.Kesabaran demi kesabaran
dalam menghadapai cobaannya ternyata banyak membawa hikmah yang luar biasa.
***
Keesukan
paginya aku sudah siap untuk berangkat bersama teman-teman lainnya untuk ikut daftar dan tes masuk perguruan
tinggi negeri tersebut dengan status beasiswa bidik misi.Alngkah bahagianya aku
hari ini.Ketika aku mengerjakan soal-soal tes memang ada yang sulit tapi aku lakukan
dengan penuh keseriusan, dan aku disini ambil program studi bahasa inggris,
supaya anak-anak Indonesia nanti jika aku ajar bisa berbahasa inggris juga
selain bahasa Indonesia dan jawa.
Seusai tes kami
pun pulang ke kampong halaman.tetapi didalam bis, ingatanku meminta mengingat
kembali masa-masa dimana perjuanganku untuk sekolah menengah atas.Dan semuanya
juga berkat batik yang dijual nenek, apa mungkin karena sakingnya cinta sama
batik jadi batik-batik tersebut yang menolongku dan tak lupa juga kesenian
gemblak yang membuat aku bisa terbantu dalam biaya sekolah tapi tentunya semua
pertolongan bersala dari Allah melalui batik-batik dan kesenian tersebut.
Beberapa hari
kemudian aku mendapatkan kabar jika aku telah diterima diperguruan tinggi
negeri tersebut dengan status beasiswa bidik misi.Aku pun bersujud syukur
kepada Allah atas karunia terindahnya yang diberikannya kepadaku.
Tapi kali ini
aku pun kembali ke sekolah untuk menunggu hasil pengumuman ujian akhir
nasional.Jam demi jam, detik demi detik aku lalui dengan pasti.tak lama
kemudian aku pun mendapatkan pengumuman tersebut yang dibukus dengan
amplop.Semua teman-temanku membukannya dan tak lama kemudian tangisan mereka
gempar karena terharu mereka bisa lulus sedangkan aku alhmdullilah LULUS.Dan aku
pun keluar kelas sembari menjunjung tinggi kertas pengumuman tersebut dan aku
bawa depan bendera meraah puti yang berkibar ditinga tertinggi dilapangan
sekolah.Aku terus menatap bendera tersebut dengan menyebarkan senyuman
termanisku.Dan tak lama kemudian aku pun hormat kepada bendera tersebut.
Alhamdullilah ya
Allah pujiku selalu untukmu walau dalam kisah sedih maupun senang.Akulah
manusia yang tak pernah lelah dalam berjuang untuk meraih cita-citaku.Dan
terima kasih yaAllah Engkau telah memberikan sebauh anugerah terindah kepadaku
selama aku duduk dibangku SMA dengan memberikan BATIK dan kesenian GEMBLAK semacam reog ponorogo
sebagai penopang untuk mencari nafkah buat hidup dan membayar sekolah.Ya Allah
hanya satu kalimat yang ingin aku dan
nenek ucapkan….
“ KITA CINTA
INDONESIA…..”
Sekian…
Karya : IMAM
ARIS SUGIANTO