Showing posts with label CERPEN ROMANTIS DAN CERPEN SEDIH. Show all posts
Showing posts with label CERPEN ROMANTIS DAN CERPEN SEDIH. Show all posts

Cerpen Cnita Remaja "Tamasya Cinta"



 #Cerpen                                      "Tamasya Cinta"


Ia masih berdiri tegap menatap bentangan sawah dihadapannya. Tangannya bersedekap. Rambutnya terurai panjang hingga sebahu. Tubuhnya yang cendayam membuat dirinya tampak lebih anggun dengan pakaiannya yang kasual. Dipunggungnya sudah menggendong ransel besar. Disampingnya sudah ada motor gede yang akan membawanya pergi kemana saja dia mau. Ia memang cendrawasih yang bebas terbang kapanpun dia inginkan. Seumur hidupnya baru kali ini ia akan melancong menuju tempat wisata bersama tambatan hatinya. Sesekali ia melihat jam tangan yang sudah melekat ditangan kirinya. Raut wajahnya tampak memancarkan kegelisahan. Kabar dari sang pacar tak kunjung datang. Sementara kemelut mendung hitam berarak terhempas angin membawa hatinya semakin gusar. Sesaat kemudian, satu sms masuk dalam HP-nya. Wajahnya kembali tenang dan sumringah. Ia bergegas mengemudikan motornya dan meninggalkan tempat itu.
Matanya berbinar terang. Senyumannya merekah bagai delima. Setiap dalam perjalanan, dia terus berharap cintanya akan selalu bersemi dan memberikan kenangan terindah melalui pertualangannya di tempat wisata tersebut. Ia melewati hutan jati yang hijau dan rindang. Perjalanan yang hampir memakan waktu satu jam setengah dari kampung halamannya itu membuatnya semakin lelah. Sesampainya di lokasi wisata, tepat di depan sebuah gapura, ia langsung berhenti dan memakirkan motornya.
Kini ia berada di tempat wisata Kayangan api di Kabupaten Bojonegoro. Salah satu obyek wisata yang sangat terkenal di Bojonegoro.  Kayangan api merupakan sumber api abadi atau api yang tidak pernah padam sekalipun. Api yang keluar adalah sumber api alam dan merupakan sumber api terbesar di Asia tenggara. Kayangan api tersebut terletak di Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, sebuah desa yang memiliki areal hutan seluas 42,29 % dari luas desa.
Ia pandangi keadaan sekitar dengan penuh seluruh. Dia tampak celingak-celinguk mencari seseorang. Ia terus menunggu. Hatinya gusar dan bimbang. Perasaannya dipenuhi rasa takut jika kekasihnya tidak datang menepati janjinya. Dirinya mondar-mandir di depan gapura wisata tersebut seperti bidadari kehilangan selendangnya. Sementara udara dingin terkibas sejuk dari pohon-pohon rindang di sekitar hutan tersebut. Angin itu menerpa tubuhnya sehingga membuatnya mengigil dan menelungkupkan kedua tangannya diatas dadanya. Matanya masih menyelidik tajam mencari kekasihnya yang tak kunjung datang. Dia semakin bosan untuk menunggu. Apa dia berbohong, Tuhan, pikirnya. Sudah satu jam ia menunggu namun kekasihnya belum juga datang.
Airmatanya mulai menetes dan membasahi pipinya. Lalu ia mengusapnya lembut hingga kering tiada tersisa. Ia mulai ragu dengan cintanya. Kini ia putuskan pulang saja namun sesaat sebelum ia bertindak meninggalkan tempat itu, ada suara seseorang memanggilnya. Ia terhenti sejenak dan mendengarkan suara yang berasal dari balik tubuhnya.
“Fitri…” panggil seseorang itu lagi.
Cewek itu membalikkan tubuhnya dan terkejut melihat siapa yang memanggil namanya. Seorang cowok melambaikan tangan kearahnya sambil tersenyum manis padanya.
            “Haston…” pekiknya sambil tersenyum.
Haston-kekasihnya itu baru datang menemuinya. Mereka saling berjalan menuju satu arah hingga raga mereka bertemu satu sama lain. Hatinya Fitri yang tadinya sedih menjadi bahagia. Rasa takutnya menjadi kekuatan untuk cintanya.  
            “Kenapa kamu baru datang, sayang…” tanya Fitri lembut.
            “Aku sengaja membuat kamu menunggu biar aku tahu seberapa kuatkah kesabaran cintamu untukku...” jawab Haston santai.
            “Apa kurang cukup aku menerima tawaranmu untuk menguji cinta kita melalui pertualangan perjalanan wisata ini untuk menumbuhkan rasa saling percaya diantara kita…” seloroh Fitri.
“Rasa saling percaya diantara cinta kita akan terbukti jika kita berdua bisa melewati segala rintangan dalam perjalanan wisata kita hingga di lokasi wisata terakhir nanti, sayang…”  tukas Haston serius.
Fitri hanya menghela nafas dalam-dalam. Cewek itu langsung tersenyum tipis lalu menggandeng tangan kekasihnya. Mereka berdua langsung melangkahkan kakinya menuju sebuah gapura yang mempunyai jajaran tiang yang berdiri megah didepannya.
Kini mereka memasuki area api kayangan. Mata mereka berdua tertuju pada sebuah tiang yang berjajar. Ditengah tiang tersebut terdapat lingkaran batu yang mengeluarkan gelombang panas dan menjadi tempat dimana api abadi tersebut bersemayam. Hatinya membuncah kegirangan melihat sebuah api yang tidak pernah padam. Bagi mereka lokasi wisata yang mereka kunjungi akan menjadi lelangon atau teman tempat bersuka-suka untuk cintanya. Namun konon ceritanya, api kayangan yang mereka kunjungi tersebut menurut masyarakat sekitar percaya bahwa lokasi api kayangan itu menjadi tempat bersemayamnya Mbah Kriyo Kusumo atau Mbah Supa, atau biasa dipanggil dengan Mbah Pande yang berasal dari kerajaan Majapahit. Mbah Supa merupakan seorang pande besi yang biasa membuat alat-alat pertanian dan pusaka. Didekat api kayangan itu terdapat kubangan lumpur yang terletak di sebelah barat api kayangan dan berbau belerang. Masyarakat percaya bahwa Mbah Supa masih beraktifitas sampai sekarang. Tempat api kayangan tersebut menjadi tempat yang sangat sakral. Api yang ada hanya boleh diambil jika ada upacara yang sangat penting seperti upacara Jumenengan Ngarsodalem Hamengku Buwono X dan untuk mengambil api harus melalui suatu prasyarat yaitu selamatan atau wilujengan dan tayuban dengan menggunakan fending eling-eling, wani-wani dan gunungsari yang merupakan gending kesukaan Mbah Kriyo Kusomo.
Mereka berdua menikmati suasana wisata tersebut. Angin sepoi-sepoi menghempas tubuh mereka hingga terasa sejuk dan dingin. Setelah sekian menit termangu menikmati indahnya api abadi tersebut, mereka langsung mengambil foto selfi berdua. Setelah itu mereka melanjutkan pertualangan ke tempat wisata berikutnya. Masih ada dua tempat wisata yang mereka harus kunjungi. Bagi Fitri yang menjadi masalah dalam hal ini adalah dia harus mengendarai motor sendirian dan terpisah dengan sang pacar untuk menuju tempat wisata itu. Entah kenapa perasaannya seringkali was-was dengan keadaan jalan raya yang semakin siang semakin padat merayap. Tapi ini menjadi tatangan bagi dirinya untuk menguatkan cintanya bersama Haston.
Mereka memulai kembali perjalanan wisatanya menggunakan motor tersebut. Fitri dan Haston terpisah jarak dan waktu menuju tempat itu.  Bagi Fitri menguji cinta diri sendiri itu adalah hal yang konyol.  Tak pernah sama sekali terpikir olehnya. Semua rencana telah disusun rapi oleh Haston. Ia pengen sekali membuktikan cinta itu. Seberapa percayanya hati mereka akan cinta itu. Seberapa kuatkah cinta diantara mereka. Lebih asyiknya lagi mereka memang benar-benar tidak berangkat bersama alias sendiri-sendiri dengan jarak dan waktu yang berbeda. Itulah yang akan membuat konsistensi pada cinta mereka. Menumbuhkan Integritas dalam diri mereka sehingga rasa saling percaya tumbuh dan menguatkan cinta mereka.
Sekarang  motor Haston melaju lebih cepat. Menyusuri  jalanan yang padat merayap dan saling salip menyalip satu sama lain. Akhirnya Ia sampai ke lokasi wisata selanjutnya. Ia berhenti dan membuka helm. Lalu ia pandangi sebuah gapura berwarna biru dan diatasnya terdapat patung kepiting raksasa. Senyumannya mengembang. Sekarang ia bergantian menunggu.  Cowok itu tampak santai. Dia duduk diatas jok motornya. Lalu dibukanya ransel yang dibawanya. Mengambil sebotol air lalu meminumnya. Hampir satu jam dia menunggu. Pujaan hatinya tidak kunjung datang. Hatinya semakin gusar. Lalu ia mengambil HP disaku celananya. Ia memencet nomer kekasihnya itu. Tapi tidak ada jawaban dari Fitri. Haston semakin bingung. Perasaannya kacau balau. Dia cemas dan takut terjadi apa-apa dengan Fitri dalam perjalanan. Sekali lagi, ia menelepon nomernya Fitri. Hasilnya tetap nihil. Pikirannya sudah mengambang kemana-kemana. Sekelebat bayangan Fitri muncul dibenaknya. Dia terlamun sejenak tentang kekasihnya itu. Tiba-tiba ada deru suara motor dan klason membangunkannya. Fitri berhenti tepat dihadapannya. Haston tersenyum lega. Fitri datang dalam keadaan baik-baik saja. Mereka berdua langsung memarkir motornya diparkiran. Mereka berdua sekarang berada di Wisata Bahari Lamongan atau sering disebut WBL. Lokasinya terletak di pesisir utara Pantai Jawa, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Mereka membeli tiket masuk seharga Rp. 55.000,- per orang karena hari biasa. Apabila hari libur atau hari jumat sampai minggu maka harga tiket seharga Rp. 75.000,- per orang. WBL buka mulai 08.30 sampai 16.30 WIB.
Fitri dan Haston memasuki areal wisata tersebut dengan sumringah.
“Inilah lelangon kita berikutnya, kita harus mengabadikan momen terindah kita disini…”
“Semoga dengan mengabadikan kenangan demi kenangan , cinta kita bisa langgeng ya..”
“Amiin..”
Pandangan mereka menebar ke penjuru arah. Mereka sangat antusias dengan semua ini. Mereka segera menikmati suasana dengan berbagai wahana di tempat tersebut. Dari kejauhan tampak sebuah laut terbentang luas dan indah. Disana juga terdapat kolam renang yang besar, rumah hantu, berbagai wahana lainnya. WBL tersebut sudah berdiri sejak tahun 2004 sebagai hasil pengembangan obyek wisata yang telah ada sebelumnya, yakni Pantai Tanjung Kodok yang dipadukan dengan konsep wisata bahari dan dunia wisata memiliki areal seluas 11 hektare. WBL tersebut akan memanjakan para pengunjung dengan konsep one stop service. Tempat wisata ini didukung pula dengan hadirnya tiga wahana baru setiap tahunnya. WBL juga menyediakan fasilitas pendukung seperti Pasar Hidangan, Pasar Wisata, Pasar Buah dan Ikan serta fasilitas umum lainnya seperti Masjid, Klinik, ATM, Tempat menyusui Ibu dan Bayi, Toilet, Free WIFI, Tempat Parkir dan lain sebagainya. WBL juga terhubung dengan pantai tanjung kodok, Tanjung kodok beach resort serta Maharani zoo Goa.
Fitri dan Haston memadu kasih dengan mengabadikan setiap momen terindah melalui HP canggihnya. Mereka menyusuri pantai tanjung kodok yang elok. Bercanda bersama. Kebahagiaan itu seakan meronai mereka berdua. Selang waktu berlalu, kebahagiaan itu seolah sirna dari raut wajahnya yang ayu. Wajahnya berubah menjadi suram ketika seorang perempuan seksi berpenampilan modis dan trendi menyapa Haston lalu mereka cipika -cipiki. Perempuan itu memang terlalu genit dan menggoda. Haston dan perempuan itu terlibat obrolan yang lumayan lama. Haston seolah terpusat dengan perempuan itu. Fitri merasa tidak dipedulikan. Dirinya merasa diabaikan. Dia mundur agak menjauh. Lalu matanya menembus pemandangan di tengah laut tersebut. Rambutnya terkibas pelan karena angin bertebaran. Fitri terlamun dalam keheningan. Rasa cemburu dihatinya semakin membara dan sulit padam. Selang beberapa menit kemudian, Haston melihatnya sendirian. Ia menarik tangannya dan memperkenalkan perempuan tersebut kepada Fitri. Perempuan itu mengulurkan tangannya untuk jabat tangan. Tapi Fitri seakan tidak ingin menyambutnya. Secara terpaksa tangannya diulurkan lalu dipegangnya tangan perempuan itu.
“Hai, aku Yuli. Mantan pacarnya Haston..”   ujar perempuan itu dengan seenak mulutnya.
Hatinya tergonjang mendengar ucapan dari perempuan itu. Api emosi dalam hatinya seakan berkobar. Rasanya ia ingin menampol mulut perempuan sok cantik itu. Sementara Haston hanya terdiam dan hatinya menjadi cemas.
“Fitri, pacarnya Haston.” jawab Fitri kenes lalu meremat tangan perempuan itu.
Perempuan itu bergelinjang sedikit kesakitan. Ia menarik tangannya secara kasar. Lalu matanya mendelik dan menyelinap memandangi Fitri dengan penuh kebencian. Haston berusaha melerainya. Perempuan tersebut sewot. Lalu dia pergi begitu saja tanpa pamit dari hadapan mereka. Haston seperti tidak bisa berkata-kata. Dia kebingungan mencari kata. Hatinya Fitri penuh tanda tanya.
“Apa kamu masih ada hubungan cinta sama mantanmu itu..”
“Tidak..”                                                                                       
“Lalu kenapa kamu tadi sok mesra sama dia., hatiku sakit, Haston., “
“Sabar, maafkan aku…”
“Sebenarnya kamu mengajak aku pergi traveling sebagai ajang untuk menguji cinta kita atau hanya untuk menyakiti hatiku  saja…”
“Tidak, semua ini hanya kebetulan saja. Maafkan aku…”
Kemudian dia berlari meninggalkan Haston ditepi pantai. Haston berusaha mengejarnya hingga tepat diparkiran mereka berhenti. Fitri meneteskan airmata cinta. Dia takut kehilangan kekasihnya. Haston membalikkan tubuh Fitri ke hadapannya.
“Kamu marah, kamu sakit hati, aku akui salah maka maafkan aku…”
“Kamu tega, kamu tega membuatku begini, seharusnya kita bahagia di obyek wisata tersebut bukan membuatku bersedih..”
“Maafkan aku….”
“Aku ingin pulang saja.., sudah cukup rencana konyolmu ini…”
“Maafkan aku, percayalah kalau ini ujian buat cinta kita, kita harus kuat Fitri, buktikan pada dunia kalau cinta kita berdua itu tidak akan pernah pupus walau badai menerjang, kita tetap akan satu, percayalah…”
“Kamu janji bahwa kamu tidak akan pernah menyakiti hatiku lagi.”
“Janji..”
Seketika itu Fitri memeluk erat tubuh Haston dengan penuh perasaan. Haston membelai rambutnya lembut. Pelukkan keduanya dilepaskan. Haston mempersilahkan Fitri mengambil motornya.
“Mari kita menuju lelangon kita berikutnya…, dan kamu harus percaya bahwa kita adalah cinta sejati…” tukas Haston penuh percaya diri.
Fitri hanya menganggukan kepalanya. Senyumannya merekah diiringi bibirnya yang merah karena gincu yang dipoleskannya. Mereka berdua langsung bergegas mengambil motornya masing-masing. Mereka kembali melanjutkan perjalanannya menuju obyek wisata yang terkahir. Kali ini obyek wisata yang akan mereka berdua kunjungi bisa memakan waktu kurang lebih selama tujuh jam perjalanan. Mereka harus kuat apalagi mereka berkendaraan motor sendiri-sendiri dan  terpisah pula.
Terik matahari semakin panas. Mereka tetap melaju menyusuri jalanan yang penuh polusi. Melewati segala penjuru arah untuk menggapai tempat terakhir untuk pembuktian cinta mereka. Dalam perjalanan Fitri sebentar-sebentar istirahat ditepi trotoar sambil sesekali jajan. Sementara Haston kebut-kebutan di jalan. Ia ingin segera sampai tempat tujuan. Dia ingin lekas menyatakan sesuatu rahasia penting kepada Fitri. Sekian lama dalam perjalanan, Fitri dan Haston sudah berada di sebuah jalan menanjak dan berliku namun ditempat yang berbeda. Mereka berhenti dan menikmati sore di pinggir jalan sambil menikmati pemandangan bukit dan pegunungan di sekitar mereka. Kabut tebal tergiring angin diatas pegunungan. Suasana dingin yang menyerang tubuh mereka terasa sejuk dan menghilangkan rasa lelah selama dalam perjalanan.
Sore itu, matahari tampak hampir kembali dalam peraduaannya. Sesaat setelah menghirup udara segar Fitri maupun Haston melanjutkan perjalanannya menuju Bromo. Setelah satu jam  kemudian,  mereka sampai dipemukiman warga sekitar gunung Bromo. Tapi hari telah malam. Saat itu juga mereka menemukan kerumunan orang-orang membawa obor di desa Wonokerto. Haston berhenti. Ia menunggu kedatangan Fitri. Selang kemudian, Fitri datang membelakanginya. Mereka berdua saling melempar senyum dan mengikuti warga melakukan adat istiadat mereka. Tepat malam ini, masyarakat tengger mengadakan upacara Yadnya Kasodo. Upacara diadakan tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar 14 atau 15 dibulan Kasodo (kesepuluh) berdasarkan penanggalan Jawa. Gunung Bromo merupakan gunung berapi yang masih aktif dan paling popular sebagai obyek wisata Jawa Timur. Bromo memiliki ketinggian 2.392 meter diatas permukaan laut dan berada dalam wilayah Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang. Bentuk tubuh gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas 10 kilometer persegi. Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah kurang lebih 800 meter (utara-selatan) dan kurang lebih 600 meter (timur-barat). Daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo. Masyarakat sekitar menganggap Bromo sebagai gunung suci.
Haston dan Fitri menikmati pertujukan di pendopo mengenai kisah tentang gunung Bromo. Setelah acaranya selesai, mereka berdua mengikuti para warga dan pendeta hindu untuk melakukan upacara di Pura didekat gunung Bromo. Haston dan Fitri tampak sangat bahagia bisa melihat semua yang ada ditempat itu. Mereka menikmati keindahan malam itu hingga dini hari. Setelah itu pasangan kekasih tersebut melanjutkan perjalanan menuju penanjakan di gunung Bromo, untuk melihat matahari terbit dari sana. Malam yang sangat dingin tak membuat mereka menyerah. Mereka berdua berusaha menggapai atas penanjakan. Akhirnya takdir membuat mereka berdua sampai disana. Sudah banyak orang berkumpul di penajakan itu hanya ingin melihat matahari terbit. Beberapa sesaat kemudian, matahari terbit (Sunrise) tersebut tampak muncul diatas gunug Bromo tersebut. Haston dan Fitri terkesiap menikmati dan terus memandangi matahari terbit itu diatara kerumunan orang. Haston segera menghadapkan tubuh Fitri ke hadapannya. Tangan mereka menyatu. Senyuman mereka mengembang jadi satu. Haston mengeluarkan cincin dan memakaikan dijari manisnya Fitri.
“Sudikah kamu menikah denganku, Fitri..”
Fitri terharu dan memeluk Haston penuh cinta. 

Karya   : Imam Aris Sugianto

Perpisahaan Sementara



PERPISAHAN SEMENTARA

Suara gemuruh pesawat terbang di sebuah bandara Juada Surabaya amat sangat bising sehingga membuat telinga membengang. Pesawat-pesawat tersebut tampak sedang landing dan ada juga pesawat yang sedang take off. Tepatnya pesawat-pesawat itu tampak datang dan pergi silih berganti. Sedangkan taksi-taksi berwarna biru tampak masih berjejer di emperan gedung bandara tersebut.
Dari kejauhan tampak ada sebuah taksi yang mengarah kearah bandara dan akhirnya taksi tersebut berlabuh didepan emperan gedung bandara. Dari dalam taksi itu keluarlah tiga gadis cantik dan satu cowok mungil. Mereka yang tidak lain dan tidak bukan adalah Rahma, Dian, Faricha dan Imam. Mereka berempat adalah sahabat sepanjang semester yang selalu menemani Rahma dalam segala aktivitas kuliah maupun kegiatan lain di kampus. Tak lama kemudian setelah Rahma membayar argo taksi, mereka berempat langsung segera mungkin memasuki gedung bandara itu.
Sesampainya Rahma didalam gedung tersebut, matanya tampak melihat kanan-kirinya.
“ Wisnu, nandi pe‟. (Wisnu dimana sih).” seloroh Rahma dengan bernada tanya dan tampak gelisah.
“ Sabar tho, ma. Nanti Wisnu juga ketemu kok, uwes tenang wae.” ujar Imam dengan santai.
tampaknya Rahma masih cemas dan semakin gelisah karena Wisnu-sang pacar belum muncul juga di bandara tersebut.
“ Opo sih ma.ojo gawe kita-kita panik tho. Uwis tenang, Wisnu pasti ketemu. Dewe‟e ora-ora nek kabur. (apa sih ma.jangan buat kita-kita panik dong, sudah tenang saja, Wisnu pasti ketemu nanti. anaknya tidak akan kabur kok).” sahut Faricha sambil lihat kanan-kiri untuk mencari Wisnu juga.
“ Yo uweslah ma. Kita kesana saja, mungkin Wisnu ono nong kono. (ya udah ma, kita kesana saja, mungkin saja Wisnu ada disana).” ajak Dian sambil menarik tangan Rahma ke sebuah ruang tunggu.
Hari ini adalah hari perpisahan antara Rahma dengan Wisnu- kekasihnya. Sebenarnya mereka sudah hampir dua tahun menjadi pasangan kekasih yang dimulai sejak SMA hingga berlanjut Rahma kuliah. Hubugan mereka pernah putus - nyambung karena tidak ada restu dari orang tua. Wisnu adalah cowok tampan yang menjadi pacar impiannya Rahma selama ini. Postur badannya tinggi dan semampai, pokoknya dia keren abis. Itulah kenapa Rahma sayang banget sama Wisnu. Hari ini Wisnu harus pergi ke Kalimantan untuk mengejar cinta-citanya sebagai seorang polisi. Beberapa bulan lalu Wisnu sudah mendaftarkan diri sebagai anggota polisi diwilayahnya. Dan ia mengikuti babak demi babak penyeleksian. Tetapi takdir berkata lain kalau dia harus tereliminasi dari penyeleksian tersebut. Tepatnya dia tidak terpilih menjadi polisi didaerahnya dan terdepak dari pemilihan polisi tersebut. Namanya juga Wisnu, seorang laki-laki tangguh yang tak kenal putus asa dan tak mengenal lelah. Dia terus berjuang mati-matian untuk menjadi polisi hingga ia benar-benar memutuskan untuk ikut pemilihan polisi daerah Kalimantan. Sehingga Wisnu harus mengambil resiko yang amat besar dalam hidupnya. Salah satunya, Wisnu harus meninggalkan keluarganya dan terutama ia harus meninggalkan sang kekasih.

Beberapa minggu yang lalu Rahma dikasih kabar sendiri oleh Wisnu lewat HP jikalau dia harus ke Kalimantan untuk meraih cita-cita sebagai abdi Negara tersebut. Keputusan Wisnu, ternyata membuat Rahma sedih dan menangis selama dua hari dua malam. Sehingga Rahma terpaksa harus meninggalkan kuliahnnya.Tetapi kesedihannya tersebut tak berlangsung lama. Setelah Rahma membuat keputusan untuk ikhlas dan berencana akan membelikan Wisnu cincin yang telah diukir nama mereka berdua. Cincin tersebut sebagai pertanda cinta dan kasih sayang mereka yang amat kuat dan tidak akan terpisahkan sampai kapanpun walaupun dunia ini berakhir sekalipun.
***

Suasana bandara yang penuh dengan pesawat-pesawat itu masih terlihat ramai. Cowok tampan, tinggi dan badannya berisi yang bernama Wisnu itu masih setia dan santai menunggu calon istrinya kelak nanti di ruang tunggu.Wisnu duduk dikursi panjang dan meletakkan tas dan kopernya diatas bangku tersebut. Waktu semakin sempit tapi Rahma tak kunjung menghampiri dirinya. Dilain sisi, Rahma dan kawan-kawan tampak masih bingung mencari Wisnu.Tak lama kemudian Dian tak sengaja melihat cowok yang bernama Wisnu tersebut.
“ Eee…opo iku tha, ma ( apa itu ya..). Yang namanya Wisnu.” tanya Dian sembari menunjuk kearah Wisnu.
“ Haa…endi-endi (mana-mana).” tanya balik Rahma dengan semakin bingung dan berdebar-debar hatinya. Selang beberapa lama kemudian Rahma melihat juga sosok Wisnu yang sedari tadi masih duduk santai diruang tunggu tersebut.
“ Oh ya..itu memang Wisnu.” centus Rahma.
Kemudian Rahma bergegas dengan cepat-cepat menghampiri Wisnu sembari diiring lari kecil menuju dimana Wisnu berada. Sedangkan ketiga sahabatnya, Faricha, Dian dan Imam hanya bengong dan melihat satu sama lain.
“ Rahma….raaaaahhmmaaaaa…” panggil ketiga sahabatnya.
Akhirnya perjumpaan Rahma dengan Wisnu di bandara kesampaian juga. Wisnu berdiri dari tempat duduknya. Rahma masih membuka rasa tersebut dihatinya. Matanya Rahma berkaca-kaca ketika berhadapan dengan Wisnu.
“ Tak usah kamu menangis , yank. Ini hanya perpisahan sementara. Koyo cah cilik wae (seperti anak kecil saja). Aku ke Kalimantan untuk menjadi orang sukses agar suatu kelak nanti aku dapat menikahimu. Mben bapakmu percoyo nek aku iso (supaya bapakmu percaya jika aku dapat ) memberikan nafkah lahir dan batin kanggo sampeyan (untuk kamu), yank. Supoyo aku ora isin karo keluargamu (supaya aku tidak malu dengan keluargamu). Sewaktu aku akan meminang kamu. Ngerti!” kata Wisnu tegas.

Rahma hanya menganggukkan kepalanya sambil menahan rasa tangis dan airmatanya yang hampir jatuh agar Wisnu tidak terlalu tegas dengannya. Watak Wisnu bisa dibilang keras seperti batu tapi hatinya bisa dibilang baik sekali terhadap Rahma.
„Wisnu! Sebenarnya hatiku ini tidak mau kamu tinggalkan. Aku masih ingin bersamamu. Ya Allah tolong aku. Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa ikhlas melepaskan Wisnu, sang pujaan hatiku.‟ kata Rahma dalam hati.
“ Tapi jangan selingkuh ya disana, awas pokok‟e. (awas kamu)..” ancam Rahma ke Wisnu sembari memanyunkan bibirnya dan terus cemberut.
“ Rahma, Rahma Sayang, Ya ora mungkinlah (Tidak mungkinlah). Kita kan bisa pacaran jarak jauh. Ngerti ora opo ora ngerti (mengerti atau apa tidak mengerti) he he he..” centus Wisnu sembari bercanda.
“Iya. Aku ngerti yank. Oh ya aku punya sesuatu buat kamu.” tukas Rahma.
Tak lama kemudian Rahma melepaskan pegangannya dengan Wisnu dan berusaha mengambil sepasang cincin didalam tasnya. Duo cincin itu dikeluarkannya. Di permukaan cincin terukir nama mereka berdua.

Beberapa hari yang lalu Rahma telah mewujudkan rencananya untuk memberikan Wisnu sebuah cincin. Rencana itu diwujudkannya juga. Rahma telah memesan duo cincin tersebut disebuah moll terbesar di Surabaya dengan didampingi ketiga temannya tadi. Cincin seharga seratus ribu, yang bisa dibilang harganya ekonomis dan hemat tapi harga cincin tersebut tak begitu penting bagi Wisnu, yang terpenting adalah niat dan cinta Rahma ke Wisnu, tentunya juga keikhlasan hati mereka berdua dalam menjalin cinta.Wisnu pun sahlut dengan niat Rahma tersebut. Akhirnya Rahma dan Wisnu saling memakaikan kedua cincin tersebut di jari-jari mereka berdua. Cincin yang berukir nama Rahma dipakaikannya ke jari manisnya Wisnu sedangkan cincin yang berukir nama Wisnu dipakaikannya ke jari manisnya Rahma.
“ Alhamdullilah yank. Jaga ya cincin ini agar kamu ingat aku terus di Kalimantan.” pinta Rahma ke Wisnu.
“ Pasti yank. Kamu jangan khawatir.” seloroh Wisnu sembari tersenyum ke Rahma agar ia merasa tenang.

Dilain sisi ketiga temannya Rahma. siapa lagi kalau tidak lain dan tidak bukan mereka adalah Faricha, Dian dan Imam merasa terabaikan dan dicuekin. Mereka duduk di sebuah kursi panjang yang hanya mereka bertiga mendudukinya. Ada yang mengantuk, ngomel-ngomel dan main HP.
“ Rahma kok lama benget seh…yo opo iki (bagaimana ini). Aku kudu cepat balik ke jombang. Adikku saiki mantenan (adikku jadi penganten) e…! kepriye..iki. telat la „an (bagaimana ini pasti telat)” Keluh Faricha sambil ngedumel terus.
“Ya Allah, Allah my god…my god.. my god…..Ya ampun. Sudah jam segini loh. Rahma kok ga‟ ndang gage (tidak cepetan). Aku ngeko keri la‟an (nanti ketinggalan) bis ke Bojonegoro, ga iso muleh malah (tidak bisa pulang). Tadi katanya aku mau dikenali sama Wisnu. Kata Wisnu aku suruh ikut kalau aku pulang kesorean nanti sampai rumah malah malam. Pasti bisnya sudah budal kabeh (berangkat semua).” keluh Imam sambil ngantuk-ngatuk.
Sedangkan Dian hanya diam saja dan memainkan HPnya, sebentar-bentar tutup HP, masukkan tas dan diambil lagi hpnya lalu dimainkan lagi dan begitu seterusnya.
“ Stress ya. yan. Dari tadi hp kok dimasukkan lalu dikeluarkan lalu dimainkan dimasukkan lagi lalu dikeluarkan lagi dan seterusnya. Pasti kamu BT ya...” tegur Faricha.
“ ya nih…suweneee…ora kaprah (lama banget). Aku belum cuci baju,umbah-umbahanku akeh (cucianku banyak). Tadi piring dikamar belum aku beresin dan belum dicuci lagi, mana tadi waktu aku mandi Rahma griseni wa‟e (menyuruh cepetan). Aku belum sempat pakai sampo, sabunan urung tutuk pisan.poko‟e puyeng (pakai sabun belum selesai pokoknya pusing)…” keluh Dian sambil cemberut.
“ Sabar yan, sabar yo…lagian loh Rahma juga pisahnya ga tiap hari. Mungkin seratus tahun sekali.” sahut Imam sambil lihat Wisnu dan Rahma.
Tak lama kemudian Rahma mengajak Wisnu bertemu dengan teman-temannya yang duduk di sebuah bangku yang ditempati Wisnu juga.
“ Eh..teman-teman, ini loh yang namanya Wisnu yang pernah aku ceritakan waktu itu.” ucap Rahma ke teman-temannya.
“Hai, kenalkan aku Wisnu.” ucap Wisnu.
“ Hai, aku Faricha…” kata Faricha sembari menjabat tangannya Wisnu dengan menampakkan wajahnya yang masam karena diotakknya yang dipikirin acara pernikahan adiknya.
“ Aku Dian, teman kuliah dan sekaligus teman kosnya Rahma tahun 2010-2013, insyalloh begitu.” lanjut dian dengan antusias.
“ Oh iya, yank. Ini loh yang namanya Imam, yang pernah aku ceritakan waktu itu.” lanjut Rahma sambil menarik tangannya Imam.
“ Hai juga Wisnu. Aku Imam. Aku dari bojonegoro, aku sering dengar cerita tentang dirimu dari Rahma, aku senang berkenalan denganmu.” Sapa Imam ramah.
Pesawat Air Asia segera take off. Bagi penumpang yang tujuannya ke Kalimatan silahkan segera memasuki pesawat. Atas perhatiannya terima kasih.
“ Yank. Aku harus segera pergi. Aku mohon pamit yank…” pamit Wisnu.
“ Tidak. Sayang. Aku masih kangen sama dirimu.” kata Rahma.
Tak lama kemudian Wisnu dan Rahma saling berpelukan perpisahan satu sama lain. Selang beberapa kemudian Wisnu mohon pamit ke Rahma dan teman-temannya. Selepas Wisnu pergi Rahma menangis histeris dan airmata suci tersebut membasahi pipinya. Kacamata yang membalut matanya, ia lepas dan kemudian Faricha mengusap airmata tersebut dengan tisu. Sedangkan Rahma masih tetap terjaga pandangannya kearah Wisnu.
“ Wisnuuuu….” teriak Rahma.
Cinta mereka memang sangat kuat.Walau kini harus terpisahkan dengan laut dan tembok pulau. Namun cinta mereka berdua akan tetap terjaga. Tahun ini akan sedikit membuat Rahma dibalut rasa kesendirian dan pilu pastinya tapi sahabat-sahabatnya akan menjadi sahabat terindah baginya selama dia berjauhan dengan Wisnu.
***
                                                                             Sekian
                                                      Karya : IMAM ARIS SUGIANTO

Puisi Corona Virus

JENGGALA BAGI CORONA VIRUS Dunia menjadi jenggala bagi virus corona yang merajalela Sedetikpun, ia tak akan berhenti bergerilya meracun...