Pulang
kampung dari perantauan sambil membawa pasangan
Dua sejoli yang masih memadu kasih
Saling
memberi kebahagiaan satu sama lain
Tinggal
serumah dirumah kedua orangtuaku di desa
Pernikahan
siri telah menyatukan kami berdua
Merajut
asa dalam menggapai impian
Aku
bahagia dan tersanjung dalam kehidupan
Merasa
sempurna menjadi perempuan
Diriku
hamil sekitar enam bulan
Suamiku
adalah kebanggaanku
Aku
selalu berkoar karena dia adalah seorang abdi negara
Siapa
yang berani menggunjing atau meremehkan keluargaku
Aku
pasti langsung bilang suamiku agar dia memberi pelajaran pada mereka
Airmataku
mulai bercucuran
Kepala
desa mulai mempersoalkan status pernikahan kami
Mereka
bilang pernikahan kami tidak sah
Pernikahan
siri kami dianggap hanya lelucon semata
Kami
dituduh kumpul kebo tanpa ikatan
Mereka
seakan-akan ingin melunyahkan kehidupan rumah tanggaku
Menginjak-ngijak
harga diriku dan suamiku dimata masyarakat desaku
Aku
berusaha membela suamiku dengan segala kemampuanku
Suamiku
mencoba menjelaskan status pernikahan kami dengan jelas
Tapi
mereka tidak mau tahu
Mereka
hanya ingin suamiku henyak pergi dari kampung halamanku
Aku
hanya bisa pasrah
Hatiku
sangat perih dan sakit tiada terkira
Tapi
apa daya, aku hanya perempuan biasa
Hukum
berkuasa tanpa memandang siapa-siapa
Melalui
mataku sendiri
Aku
melihat peristiwa itu sangat miris dan krisis
Tangan
kami seolah-olah berpisah secara perlahan
Suamiku
diusir dari kampung halamanku
Hubungan
kami kandas pada waktu itu,
Tiada
kabar,
Tiada
kunjungan lagi ke desaku
Aku
cari dia ke kota
Namun
nihil hasilnya
Bojonegoro,
08 Agustus 2014
Karya : Imam Aris Sugianto