Matanya masih menatap larik demi larik
setiap huruf hijaiyah yang berada dalam kitab suci Al-qur’an tersebut. Mulutnya
masih melantunkan ayat-ayat suci yang maha agung secara jelas dan merdu. Bahkan
suaranya bercampur menjadi satu kesatuan yang utuh dalam ruangan itu. Para mahasiswi
yang tergabung dalam organisasi islam ini mempunyai kebiasaan setiap seusai
sholat subuh selalu mengaji dalam asramanya bersama-sama. Tak terkecuali
Dina-mahasiswi keperawatan universitas terkemuka di Kota Surabaya. Dia selalu
mengikuti agenda organisasi islam dikampusnya. Dina sudah hampir setahun ini
menjalani aktivitas kuliah dan aktif dalam berbagai kegiatan kampus maupun
kegiatan organisasi kerohanian islam. Dirinya yang selalu penasaran. Dirinya
yang selalu haus akan ilmu baru. Dirinya yang selalu ingin memiliki perubahan
dari masa ke masa. Membuatnya untuk bergabung dengan organisasi islam tersebut.
Setelah seusai mengaji Al-qur’an bersama-sama.
Dina bersiap diri untuk pulang kampung hari ini. Matanya masih memandang
bayangan dirinya didepan cermin di asmara tersebut. Tangannya berusaha
merapikan kerudung yang sedang dikenakannya dan membenarkan pakaian jubah yang
membalut tubuhnya. Kemudian tak lupa dia memakai kaos kaki yang selalu
membungkus kaki tersebut. Dia tampak cantik dengan jilbabnya. Balutan lembut
itu seakan-akan membuat dia tampak seperti bidadari surga yang menjelma menjadi
manusia. Bahkan dari raut wajahnya dia tampak bahagia dengan kehidupannya.
Dina yang dulu lugu dan cupu. Dina yang dulu tanpa jilbab.
Dina yang dulunya islamnya abu-abu dan berasal dari desa. Sekarang berubah
menjadi Dina yang baru. Dina yang selalu membalut dirinya dengan pakaian
menyerupai jubah atau lebih tepatnya dia berhijab untuk menutup auratnya. Dina
yang selalu berpikir kritis dan idealisme-nya
telah terbentuk menjadi idealisme
yang berpikir keras terhadap sesuatu. Bahkan menurutnya sekarang dia telah
menemukan jati diri yang sebenarnya dalam islam yang sesungguhnya.
Perjalanan dari Kota Surabaya menuju Kabupaten
Bojonegoro memang sangat jauh. Dina memerlukan waktu empat jam untuk sampai di rumah.
Dina pulang ke rumah atas permintaan ibu dan bapaknya. Sesampainya di rumah Dina
berusaha untuk tetap berada di dalam rumah dan tidak pergi kemana-mana. Dia
tidak seperti dulu sewaktu masih masa-masa SMA yang dapat pergi semaunya
sendiri. Namun sekarang dia lebih menjaga tingkah lakunya sesuai syariat islam
yang selama ini diperolehnya melalui organisasi kerohanian islam yang diikuti.
Adzan magrib telah dikumandangkan
seluruh penjuru desa tersebut. Dina langsung bergegas melangkahkan kakinya
menuju mushola dekat rumahnya untuk sholat berjamaah. Tetapi sejauh kakinya melangkah
menuju mushola itu. Masyarakat masih memandangnya aneh dengan segala perubahan
yang terjadi pada Dina saat ini. Mereka melihat perubahan diri Dina mulai dari
penampilan dengan hijabnya dan cara tingkah lakunya yang tak seperti dulu.
Apalagi Mereka merasa bahwa Dina lebih terlihat sangat aneh apabila Dina
mengenakan kaos kaki dengan memakai sandal. Ini suatu pemandangan yang tak
biasa bagi masyarakat desa tersebut. Namun demi jihad menuju jalan Allah yang lurus,
dia tetap teguh dan seakan tak peduli terhadap pandangan maupun omongan
orang-orang disekitar rumahnya itu.
Dalam mushola tersebut, masyarakat
sekitar yang dulu mengenalnya juga merasa segan untuk mengakrabkan diri
padanya. Bahkan sahabat-sahabat kecilnya dulu tidak semua bercengkrama
dengannya. Bagi mereka Dina yang dulu sudah berubah dan selalu membatasi
dirinya.
Perubahan diri pada Dina memang terlalu
cepat sehingga membuat keluarga, saudara-saudara dan sahabat-sahabatnya dikampung
halamannya tersebut sedikit menentang perubahan itu. Semua ini terjadi karena
dampak dari berita-berita teroris di televisi yang mengatasnamakan islam dan
melakukan bom bunuh diri. Berita tersebut telah membuat kedua orang tuanya dan
saudara-saudaranya menjadi khawatir dengannya. Orang tuanya takut jika anak
perempuannya tersebut telah berhasil di bai’at dan di cuci otak oleh
oknum-oknum yang mengaku dirinya islam dan menyuruh anaknya untuk melakukan bom
bunuh diri seperti berita di televisi itu.
Seperti petang ini, seusai sholat magrib
dan sepulang dari mushola. Dina langsung di sidang diruang tamu oleh paman dan
kedua orang tuanya mengenai perubahan pada dirinya sekarang. Sidang itu sudah
kedua kalinya terjadi semenjak Dina memutuskan memilih jalan hidupnya.
“ Dina, sebenarnya paman sangat senang melihat kamu
berhijab sesuai syariat islam seperti ini, namun paman juga takut jikalau
pemikiranmu terhadap sesuatu nantinya juga ikut berubah, entah itu pemikiran
berdasarkan islam yang mana, sekarang itu agama islam telah terbagi menjadi
beberapa aliran, ada islam radikal, islam liberalisme dan masih banyak lagi,
paman takut jika organisasi islam yang kamu ikuti termasuk mempunyai pemikiran
islam yang radikal atau liberal, apalagi sekarang banyak teroris bom bunuh diri
yang mengatas namakan islam dan alasannya untuk berjihad, berhati-hati lah Din.
Pandai-pandailah memilih dan memilah organisasi islam dikampusmu, jangan sampai
kamu salah pilih dan dijadikan teroris seperti di berita ditelevisi itu…” kata
paman santai.
“ Astagfirulllahaladzim…, tidak paman. Saya
memutuskan untuk berubah seperti ini karena saya benar-benar ingin berjihad di
jalan Allah dan saya telah menemukan islam yang sesungguhnya dalam kerohanian
islam di kampus yang saya ikuti. Saya ingin lebih bertakwa kepada Allah.
Bukankah di dalam Al-qur’an surah An-Naba’a
ayat 78 diterangkan Allah berfirman sungguh bagi yang takwa ada tempat yang
aman dan bahagia. Jadi, paman, ibu dan bapak jangan khawatir akan perubahan
yang terjadi pada Dina sekarang. Semua ini, saya lakukan semata-mata karena
Allah ta’ala. Bukan menjadi teroris seperti berita di televisi itu dan saya
bukan diantara mereka-mereka itu..” tukas Dina dengan lembut dan penuh
kesabaran.
“ Iya nduk,
ibu dan bapak hanya ingin mengingatkan kamu saja karena ibu masih takut kamu
berubah bukan keinginan kamu sendiri melainkan paksaan dari orang lain, setiap
kali kamu sudah di Surabaya, ibu tidak bisa tidur karena selalu memikirkanmu. Ibu
senang jika kamu berjilbab tapi pola pikirmu juga ikut berubah nak, kamu telalu
berlebihan. Jadi semua itu membuat ibu cemas…” kata ibunya sambil menatap Dina
dengan nanar.
“ Ibu.., Dina baik-baik saja. Di Surabaya sana,
banyak teman-teman yang sayang sama Dina jadi ibu jangan khawatir. Demi Allah.
Demi baginda nabi Muhammad. Dina benar-benar berjihad di jalan Allah dan Dina
berani bersumpah atas nama Allah bahwa Dina bukan golongan dari kaum teroris
tersebut…,percayalah. “ bela diri Dina dengan tutur kata yang lembut.
“ Iya nduk,
bapak percaya padamu. Kamu juga sudah mengetahui mana yang baik dan yang buruk.
Semoga Allah selalu merahmati setiap jalanmu…,nduk.” ucap bapak dengan santai.
Keesokan harinya. Salah satu sahabat SMA-nya mendengar bahwa Dina berada
di rumah. Sahabatnya tersebut berkunjung ke rumah Dina. Sahabat Dina tersebut
merupakan seorang laki-laki yang bernama ilham. Ilham adalah sahabat Dina yang
paling akrab sewaktu SMA, namun ketika Ilham bertandang ke rumah Dina. Ia enggan
menemuinya. Semua itu dikarenakan Dina takut
jika seorang laik-laki berkunjung ke rumah seorang perempuan akan
menimbulkan fitnah. Baginya laki-laki itu jika bukan mahromnya maka tidak akan
jadi masalah bila tak menemuinya dan bisa terhindar dari perbuatan dosa.
Sekarang dina juga anti yang namanya
laki-laki bahkan dia tak akan pernah sedikitpun bersentuhan dengan laki-laki
walaupun itu hanya pegangan tangan dan sekalipun itu sahabat karibnya sendiri
atau saudaranya. Baginya lebih baik mencegah daripada menimbulkan perbuatan
fitnah.
Ia memang benar-benar sudah berubah
secara dratis. Bukan hanya penampilannya saja yang berubah, namun pola pikir
dan bicaranya juga ikut berubah. Bahkan Tabiatnya sudah tidak seperti Dina yang
dulu. Dia yang dulu yang selalu menerima
siapa saja ketika bertamu di rumahnya baik itu laki-laki maupun perempuan. Ia yang
dulu selalu acuh tak acuh dengan keadaannya. Ia yang dulu suka update status di facebook mengenai percintaan dan cowok-cowok yang ditaksirnya. Sekarang
dia lebih suka berdakwah melalui jaringan sosial media tersebut. Tabiat itu
berubah menjadi lebih baik namun terlalu berlebihan. Memang kata banyak orang
ia mengikuti organisasi islam yang mempunyai peraturan keras. Bahkan terlalu
keras. Selalu mengharamkan segala sesuatu yang dianggapnya tidak benar untuk
dilakukan dan bahkan itu yang sudah lazim dilakukan oleh masyarakat dan sudah
membudaya tetap dianggap haram bagi mereka. Iman dalam hatinya sekarang bukan
angan-angan belaka namun sudah diwujudkan dalam bentuk amal perbuatan.
Setiap kali ia berjumpa dengan sahabat
perempuannya atau saat ia sedang berjelajah di dunia maya pasti membahas
mengenai islam di Indonesia atau hanya sekedar bercerita mengenai kehidupan
menurut islam. Seperti hari ini, Dina sedang ngobrol asyik bersama Vida-sahabat
SMAnya dulu. Dia sengaja mampir ke rumah sahabatnya itu. Tiba-tiba saja Dina
membahas mengenai islam dalam perbicangan dengan sahabatnya tersebut.
“ Mbak, Islam itu kan agama rahmatan lilallamin
yaitu rahmat bagi seluruh alam, namun kenapa negara indonesia tidak bisa
menerapkan peraturan islam berdasarkan
Al-qur’an dan hadist dalam kebijakannya….” tanya Dina serius.
“ Saya juga tidak tahu, Din. Kan kamu tahu sendiri
negara Indonesia itu terdiri dari berbagai agama, suku dan ras. Jadi kita juga
harus menghargai perbedaan itu. Para petinggi negara tersebut juga harus bisa
menyesuaikan dengan keadaan negara kita, masa mau seenaknya sendiri…” jawab
Vida santai.
“ Tidak, mbak, menurut saya, negara Indonesia harus
bisa menerapkan negara islam dan harus diusahakan itu mbak…” tegas Dina seperti
memaksa kehedaknya.
“ ya kamu bicara saja sama presidennya, jangan sama
saya…” Jawab balik Vida.
Tanpa meneruskan kembali obrolannya. Ia pamit secara
baik-baik kepada sahabatnya tersebut.
Setibanya di rumah, sudah ada seorang
lelaki muda menunggunya diruang tamu dan ditemani kedua orang tuanya. Ketika
hendak masuk rumah dan mengucapkan salam. Dia langsung dihadang oleh lelaki
muda tersebut.
“ Nah ini, dia perempuan yang sudah membuat adik
saya menghilang…” kata lelaki muda tersebut sambil telunjuknya menunjuk-nujuk
kearah Dina dengan amarah yang tak bisa dibendung.
“ Maaf, saya salah apa sehingga membuat anda marah
pada saya dan menuduh saya seperti itu..” tanya Dina dengan halus dan sabar.
“ Adik saya yang bernama Rendra, dia menghilang dan
sebelum dia menghilang dia bilang bahwa dia akan bergabung dengan organisasi
islam yang ada dikampusnya dan katanya dia tahunya dari kamu..” jelas lelaki
muda tersebut.
“ Astagfirullahaladzim..semua itu tidak benar.
Rendra menghilang itu bukan karena saya, saya tidak tahu tentang semua itu,
saya hanya memberi informasi saja mengenai organisasi islam yang ada dikampus
dan itupun juga melalui sms dan tidak ada maksud untuk mengajak atau
memaksanya…” bela diri Dina.
Rendra-Adik kelas Dina sewaktu SMA dan
sekarang juga mengikuti jejaknya untuk kuliah di universitas yang sama
dengannya. Dia sudah mengenal baik dengan Rendra sejak dulu. Bahkan sebelum
Dina berubah menjadi sangat alim, mereka berdua sudah saling akrab. Namun
Rendra sudah dua minggu tidak ada kabar dan menghilang entah kemana dia pergi.
Semua ini mengakibatkan Dina dituduh menjadi penyebab kehilangan Rendra.
Keluarga Rendra menuduh Dina bagian dari teroris yang telah dicuci otaknya
sejak dia memutuskan berubah secara total dalam hidupnya.
Peristiwa-peristiwa yang selama ini
menimpanya dianggap sebagai cobaan dari Allah untuk menguji imannya. Ia
percaya. Percaya pada maha kuasa bahwa semua ini telah menjadi ketetapan dan
ketentuannya selama di dunia. Dia selalu berikhtiar dan tawakal dengan
kehidupannya sekarang. Iman dan takwa telah membuatnya lebih sabar dan tenang.
Masalah Rendra sudah lumayan meredam
setelah kakaknya tadi pamit pulang. Dina tampak lesu dan pilu. Namun senyum
sunggingnya tetap pada ibu dan bapaknya. Tetapi masalah baginya kini muncul
kembali ketika di rumahnya akan dilaksanakan syukuran atau orang desa ini menyebutnya
manganan atau bisa disebut bancaan. Ini sebuah tradisi kebudayaan
orang desa di Bojonegoro dan nantinya akan mengundang tetangganya untuk
mendoakan leluhur mereka yang sudah meninggal dan setelah itu akan diberi
berkat (nasi dan lauk pauk serta jajanannya) untuk dibawa pulang. Keesokan
harinya acara manganan tersebut akan dibawa
ke sendang-sebuah tempat yang
dikramatkan di desa tersebut agar mereka selamat dari bencana di desa itu. Tradisi
budaya syukuran semacam ini berfungsi untuk mengenang leluhur dan masih percaya
dengan hal yang berhubungan dengan animisme. Kepercayaan tersebut sudah
mendarah daging dalam hati mereka dan sudah lazim dilaksanakan di setiap desa.
Dengan dilaksanakannya acara tersebut,
Dina menentang kedua orang tuanya dan menyuruh untuk membubarkan orang-orang
yang sudah datang dalam rumahnya.
“ Ini perbuatan musyrik bu, jadi jangan dilaksanakan.
Semua ini haram bu. Haram hukumnya. Bapak harus menyuruh orang-orang itu pulang
dan tidak ada manganan di rumah ini. Saya tidak mau Allah murka kepada keluarga
kita jika masih melakukan kemusyrikan ini…” cerocos Dina dengan tegas dan
keras.
“ Jika ibu dan bapak menyuruh mereka pulang berarti ibu
dan bapak akan sangat malu Din, dan bahkan tetangga kita akan membenci kita,
kamu berubah jadi seperti ini saja, mereka sudah ngomongin macam-macam tentang
kamu, ibu bingung harus berbuat apa…” jawab Ibu dengan tegas.
“Cukup. Din, kamu boleh merubah segala pola pikirmu
dan menghilangkan adat istiadat desa kita tapi hanya untuk dirimu sendiri,
jangan membuat bapak dan ibu malu…” sahut bapaknya.
“ Tapi Dina tidak akan membiarkan kemusyrikan ini
terus-menerus terjadi, namanya ini menyukutukan Allah dan bagi siapa saja yang
berani menyukutukan Allah, dosanya sulit untuk diampuni, saya tidak mau semua
itu terjadi pada bapak dan ibu…”
“ Sudah Cukup…” teriak bapaknya dengan tegas.
“ Baik. Jika bapak dan ibu tidak mau membubarkan
acara bancaan di rumah kita, biar saya
yang membubarkan mereka semua..” tukas Dina dan langsung melangkahkan kakinya
menuju kerumunan orang-orang yang memakai baju koko dan sarung serta kopyah
tersebut.
“ Dinaa….” teriak ibunya.
Dina berhasil membubarkan orang-orang
yang sedari tadi berada didalam rumahnya untuk kondangan. Ibu dan bapaknya
tampak merasa malu atas perbuatan anaknya tersebut. Bapaknya sangat amat marah
padanya bahkan ibunya hanya bisa menangis didalam kamar. Sebenarnya dalam hati
kecilnya terbesit rasa berdosa terhadap kedua orang tuanya, namun dia juga
tidak ingin tinggal diam melihat kemusyrikan itu terjadi dalam rumahnya. Manganan sudah menjadi tradisi sejak
turun temurun dalam keluarganya harus ditentangnya karena tidak sesuai syariat
islam.
Malam yang selalu memberikan ketenangan
dan membuatnya berada pada perenungan. Sujud dalam tahajudnya dia menangis dan
memohon ampun kepada Allah yang maha pengampun. Jika memang benar dia salah
maka dia meminta ampun yang sebesar-besarnya dan apabila memang ibu dan
bapaknya yang salah dan menyimpang dari ajaran agama islam maka dia memohonkan
ampun untuk mereka.
Ia yang selalu tawakal pada illahi. Ia yang
selalu sabar dalam setiap cobaan dan bertahan pada jihadnya. Kini dia sedikit
rapuh. Matanya yang indah itu menumpahkan air mata yang tak bisa dibendung
lagi. Dalam kesunyian malam itu, isakan tangisnya terdengar dari dalam
kamarnya. Namun dia telah berpegang teguh pada firman Allah dalam Al-qur’an
surah Al-Hasyr ayat 58 bahwa Allah berseru “ hai orang-orang yang beriman!
Bertawakalah kepada Allah. Hendaklah setiap orang memperhatikan perbuatan apa
yang telah dilakukannya, sebagai persediaan untuk hari esok. Bertawakalah
kepada Allah. Sungguh Allah tahu benar apa yang kamu lakukan.
Setelah ia membaca ayat tersebut,
hatinya semakin menjadi tenang bahwa apa yang telah dilakukannya tadi tidak
bermaksud menyakiti hati kedua orang tuanya. Baginya Allah maha tahu segala isi
hatinya kenapa dia melakukan hal tersebut.
Selang beberapa lama kemudian, ia terlelap dalam
tidur dengan balutan mukenah berwarna putih diatas sajadahnya.
----Selesai---
Karya : IMAM ARIS SUGIANTO
Karya : IMAM ARIS SUGIANTO