Showing posts with label Puisi Kritikan sosial. Show all posts
Showing posts with label Puisi Kritikan sosial. Show all posts

Catatan Hati Seorang Rakyat Untuk Pak Presiden



Pak Presiden izinkan kami bicara,
Kami adalah generasi bangsa
Kami lulusan SMA
Kami lulusan SMK
Kami seorang Sarjana

Nasib kami sangat memperhatinkan di Indonesia
Pengangguran dimana-mana
Tidak ada lowongan kerja yang menerima
Katanya tidak masuk dalam kualifikasi yang dicari
Katanya kurang menarik
Katanya tidak sesuai dengan posisi yang ada

Lalu maunya  apa negara ini
Lalu buat apa pendidikan selama ini
Hanya menambah ilmu atau wawasan yang luas
Kalau hanya itu !
Kenapa pendidikan begitu mahal di negara kita sendiri
Pendidikan bagai bisnis yang merajalela dinegeri sendiri
Sungguh miris
Sungguh menyayat hati

Begitu sulit menembus dunia kerja saat ini
Lowongan kerja hanya sebagai pajangan yang tak berarti
Menghiasi kertas tanpa tujuan yang pasti
Mencari kerja sana sini
Nihil tanpa ada jawaban dihati

Mungkin ini hanya mimpi ?
Atau sistem negara ini yang sedang bobrok
Ataukah kami yang bodoh

Pak Presiden, tolong cermati kisah kami
Haruskah generasi bangsa seperti kami menderita di negara sendiri ?


Bojonegoro, 04 Juli 2014

Karya  : Imam Aris Sugianto

Surat untuk Pak Presiden

Kami adalah anak bangsa dari golongan rakyat jelata di Indonesia
Hidup di desa ditengah hutan belantara
Berada dalam lingkaran setan yang selalu mengancam setiap harinya
Mengharap sebuah perubahan di negara tercinta

Pak Presiden yang terhormat,
Izinkan kami berbicara

Kami punya cita-cita yang cukup sederhana
Kami ingin sekolah walau hanya sampai SMP atau SMA
Kami ingin punya pendidikan tinggi supaya bisa menggapai masa depan yang cerah
Kami ingin sekolah walau ekonomi kami lemah

Pak Presiden izinkan kami memberitahu,

Katanya sekarang pendidikan gratis
Katanya sekarang pendidikan tidak usah bayar
Tapi mengapa kami masih harus disuruh bayar ini-itu
Memang benar hanya SPP bulanan saja yang digratiskan
Namun kebutuhan sekolah lainnya tidak gratis
Malah lebih mahal biayanya daripada uang SPP bulanan
Bayar uang pendaftaran,
Bayar uang seragam,
Bayar uang gedung,
Bayar uang LKS
Belum lagi bayar uang iuran tertentu

Ini namanya bukan pendidikan gratis
Tapi cuma pembayaran uang bulanan saja  yang gratis
Sebagai anak rakyat jelata
Kami kurang mampu untuk membiayai pendidikan yang semakin mahal
Katanya gratis
Kalau namanya gratis ya ga usah bayar
Mulai dari pendaftaran, uang seragam, uang gedung, uang LKS bahkan kalau perlu uang iuran juga ditiadakan

Memang benar kami hanyalah rakyat jelata
Goresan surat puisi ini hanya curhat semata
Jika pak Presiden tidak berkenan
Kami juga tak mengapa
Kami hanya rakyat jelata
Kami tidak punya kuasa apa-apa
Kami hanya ingin mengirim surat ini untuk pak Presiden
Supaya menjadi wacana dan pertimbangan secara nyata
Sebagai bahan perenungan atas janji-janji yang dulu terucapkan begitu saja


Bojonegoro, 04 Juli 2014

Karya  : Imam Aris Sugianto

Seandainya Aku Seorang Presiden


Merenung dalam keheningan
Terpaku dalam keadaan
Memikirkan masa depan
Bercita-cita menjadi seorang Presiden masa depan

Seandainya aku seorang Presiden
Rakyat akan diutamakan
Kepentingan bersama akan diprioritaskan
Masalah negara ini akan diselesaikan

Seandainya aku seorang Presiden
Tidak ada korupsi di negeri ini
Kolusi dan nepotisme disingkirkan
Kebijakan akan disesuaikan dengan keinginan rakyat saat ini

Seandainya aku seorang Presiden
Pendidikan benar-benar digratiskan
Anak-anak bangsa dicerdaskan
Rakyat diberdayakan
Jaminan kesehatan Rakyat akan digratiskan dan dioptimalkan

Seandainya aku seorang Presiden
Aku akan dirikan pabrik di setiap kecamatan
Lapangan pekerjaan tercipta seluas-luasnya bagi seluruh lulusan
Mengatasi masalah pengganguran dalam kenegaraan

Seandainya aku seroang Presiden
Anak-anak terlantar dan orang miskin akan sejahtera
Memberikan kelayakan dan kenyamanan bagi rakyatnya dalam kehidupan
Aspirasi Rakyat menjadi topik utama

Seandainya aku seorang Presiden
Kejujuran diri ini akan terjujung tinggi
Menjaga amanah suci kenegaraan
Keadilan akan ditegakan di Indonesia ini

Seandainya aku seorang  Presiden
Indonesia akan berdiri diatas kakinya sendiri
Indonesia maju dalam genggaman
Indonesia tidak akan diekspolitasi

Bojonegoro, 23 Agustus 2014

Karya              :  Imam Aris Sugianto

Mama, Maaf ! Aku Ingin Jadi Perempuan !



Masa kecilku penuh dengan bahagia
Dimanja seperti anak raja
Diperbolehkan main apa saja dengan siapa saja
Bergelimang kasih sayang kedua orangtua

Bermain boneka Barbie dan masak-masakan adalah kesukaanku
Meniru sikap mama di depan cermin adalah kebiasaanku
Mempoles gincu di permukaan bibirku adalah tiruanku
Berjalan kemayu ala model ayu

Aku laki-laki yang terjebak pada jiwa seorang perempuan
Laki-laki cantik dalam kehidupan
Selalu bersikap kemayu dalam segala perlakuan
Selalu bersifat layaknya seorang perempuan seumuran
Selalu mencoba bersolek ala putri ayu untuk pamer kepada pangeran
Selalu mencoba berpakaian perempuan
Aku nyaman dengan segala perbuatan

Kedua orangtuaku  melarangku bersikap seperti itu
Katanya tidak wajar
Kedua orangtuaku berusaha mengubahku
Berusaha mengikutkanku dengan segala kegiatan anak laki-laki diluar jam sekolahku
Namun hasilnya nihil
Aku tetap menjadi pribadi yang kemayu

Lambat laun , semua ini menjadi masalah bagiku
Aku merasa berbeda tepat diusia remaja
Aku gelisah seperti hilang arah
Aku merasa semua ini bukan jati diriku

Malam yang gamang
Hari yang penuh kebimbangan
Aku mencoba bicara kepada mama
Mama, maaf ! aku ingin jadi perempuan
Aku ingin merubah status diriku menjadi perempuan seutuhnya
Atau lebih baik aku mati daripada aku tidak menikmati kehidupan
Mama diam seribu bahasa
Mama menangis pilu
Mulutnya seolah menolak permintaanku
Tapi mama tetap setuju dengan keputusanku

Papa marah besar
Papa tidak setuju
Memang sangat memalukan
Harga diri keluarga dipertaruhkan
Namun apa daya, inilah pilihan kehidupan

Bojonegoro, 08 Agustus 214

Karya   : Imam Aris Sugianto

Suamiku Diusir Dari Kampung Halamanku


Pulang kampung dari perantauan sambil membawa pasangan
Dua  sejoli yang masih memadu kasih
Saling memberi kebahagiaan satu sama lain
Tinggal serumah dirumah kedua orangtuaku di desa

Pernikahan siri telah menyatukan kami berdua
Merajut asa dalam menggapai impian
Aku bahagia dan tersanjung dalam kehidupan
Merasa sempurna menjadi perempuan
Diriku hamil sekitar enam bulan

Suamiku adalah kebanggaanku
Aku selalu berkoar karena dia adalah seorang abdi negara
Siapa yang berani menggunjing atau meremehkan keluargaku
Aku pasti langsung bilang suamiku agar dia memberi pelajaran pada mereka

Airmataku mulai bercucuran
Kepala desa mulai mempersoalkan status pernikahan kami
Mereka bilang pernikahan kami tidak sah
Pernikahan siri kami dianggap hanya lelucon semata
Kami dituduh kumpul kebo tanpa ikatan

Mereka seakan-akan ingin melunyahkan kehidupan rumah tanggaku
Menginjak-ngijak harga diriku dan suamiku dimata masyarakat desaku
Aku berusaha membela suamiku dengan segala kemampuanku
Suamiku mencoba menjelaskan status pernikahan kami dengan jelas
Tapi mereka tidak mau tahu
Mereka hanya ingin suamiku henyak pergi dari kampung halamanku

Aku hanya bisa pasrah
Hatiku sangat perih dan sakit tiada terkira
Tapi apa daya, aku hanya perempuan biasa
Hukum berkuasa tanpa memandang siapa-siapa

Melalui mataku sendiri
Aku melihat peristiwa itu sangat miris dan krisis
Tangan kami seolah-olah berpisah secara perlahan
Suamiku diusir dari kampung halamanku

Hubungan kami kandas pada waktu itu,
Tiada kabar,
Tiada kunjungan lagi ke desaku
Aku cari dia ke kota
Namun nihil hasilnya



Bojonegoro, 08 Agustus 2014

Karya  : Imam Aris Sugianto

Puisi Corona Virus

JENGGALA BAGI CORONA VIRUS Dunia menjadi jenggala bagi virus corona yang merajalela Sedetikpun, ia tak akan berhenti bergerilya meracun...