Aku ingin seperti mereka yang bisa menatap dunia ini sebagai
kebahagiaan yang nyata dengan kesempurnaan yang Tuhan kasih, tapi kini aku
hanya bisa menatap dan melihat teman-temanku dari jauh ketika mereka
bermain dan bercanda ria,seandainya aku bisa kembali di masa kecilku.Aku ingin
bermain sama mereka Tuhan, apakah aku tidak pantas menjadi teman mereka
karena sikapku seperti wanita.Apakah aku menjijikan dan harus dibuang.
Saat terindah itu hilang dari
hidupku ketika aku beranjak remaja, bila teman-temanku terlihat sempurna dimata yang lain, tidak
begitu denganku.Semua bagiku terasa semu
dan teman-temanku serta orang lain maupun tetanggaku sendiri malah mengejekku dan
mencaciku serta menjauhiku dan semua ini berawal ketika aku masih duduk di
bangku SD kelas dua.Diri ini merasa ada yang berbeda dengan teman-temanku yang lain, mereka selalu
memanggilku " BANCI atau BENCONG."
Awalnya aku tidak peduli karena aku
tidak pernah tau apa yang mereka maksud.Setalah aku menjadi remaja, aku baru merasakan
kesedihan yang amat dalam ketika celotehan kalimat itu dilontarkan padaku.Ternyata aku tidak
sempurna yang aku kira, lebih parahnya lagi mereka selain menghinaku, juga menguncilkanku dan kritisnya mereka bukan
saja menghina atau mengucilkan tapi terkadang mereka suka melempari aku dengan batu kerikil supaya aku
menjauh dari mereka tapi aku selalu berusaha memaafkan mereka. Dunia ini memang
kejam bagi orang seperti aku ini
Sepulang
dari masa bermainku,aku langsung bersih diri
dan ambil air wudlu
kemudian sholat
fardhu setelah itu aku mengadu pada
Tuhan apa yang terjadi pada hidupku.Setetes air mataku ini sudah jatuh karena
kisahku dalam hidupku kini, tapi ibu tiba –tiba datang menghampiriku dan melihat aku menangis dan ia
memanggilku.
" Dino,anakku...kenapa kamu" tanya ibu sambil memelukku.
"Ibu, boleh kah aku tanya sesuatu " tanyaku
" Apa nak..."
"Ibu kenapa aku tercipta dengan jiwa perempuan bu, padahal jasadku
ini laki-laki
bu,"
"Kamu sedih nak, "
"Iya bu, aku sedih gara-gara aku bersikap seperti
wanita,
teman-temanku dan tetangga suka menghinaku dan mejauhiku bu, kata mereka aku
ini manusia hina dan ada juga yang bilang aku disuruh mati saja daripada aku
mengotori dunia ini bu."
"Anakku..dengarkan ibu, ibu bangga punya anak seperti
kamu, bagaimana pun kamu, kamu adalah anak ibu yang aku sayang, hidup ini
adalah cobaan, masih ada ibu yang akan menjadi teman terbaikmu."
"Ibu, bolehkah aku tanya satu hal lagi,.."
" Apa itu nak.."
"Apkah Tuhan sayang sama
aku..."
"Tuhan sayang sama kamu dan DIA
lebih sayang sama kamu daripada teman-temanmu.."
“Tapi kenapa bu, kalau Tuhan sayang sama aku, aku tidak dikasih teman, malah teman-teman menjauhiku dan
mengejekku dan mereka juga suka melempari aku dengan batu kerikil bu, apakah
aku tidak pantas hidup di dunia ini,"
" kamu marah sama Tuhan?" Tanya ibu lagi.
Aku terdiam seribu bahasa dan ibu
terus memelukku tapi airmataku ini terus mengalir semakin deras.Aku sedih dan aku sempat berfikir bunuh diri tapi
aku takut kalau ibu tidak ada yang
menemani nanti sedangkan ayahku sangat membenciku dengan sikapku yang seperti
perempuan ini sehingga pernah ayah melontarkan kata-kata kalau dia malu dan menyesal
mempunyai anak seperti diriku ini serta dia juga ingin sekali membunuhku.Aku
memang manusia tidak sempurna sobat, tapi aku juga tidak mau diciptakan dan
ditakdirkan sebagai banci.Apakah ini sebuah pilihan,menurutku tidak, karena ini
semua adalah takdir Tuhan ketika aku lahir ke dunia ini.
Hari berganti
pagi.Terusik sudah aku pagi ini dengan celotehan teman-teman sekelasku.Aku
masih duduk dilantai kelas dan semua teman-temanku tampaknya sinis padaku dan
sedikit risih terutama teman-temanku anak laki-laki.Tetapi tiba-tiba bagas
teman sekelasku yang sangat usil datang tanpa diundang didepanku dan tiba-tiba
ia meludahiku dan menertawakanku.
"Eh..Dino alias bencong,kenapa sih kamu harus hidup
di dunia ini, pergi saja sana ke neraka, mati saja kau, kamu itu bisa-bisanya mengotori dunia ini
saja," ejek bagas sambil menendangku
saat aku duduk di lantai kelas itu.
Aku terdiam dan menagis dalam hati sambil membersihkan air liyur yang membasahi
rambutku.Satu hal sobat, aku memang tercipta tidak
sempurna tapi Tuhan juga memberikanku kepintaran sehingga aku bisa juara kelas
tiap semesternya,
tapi walau begitu tidak bisa membuat aku bahagia karena tetap saja teman-temanku jahat padaku.Tak
ada teman selama aku hidup
beberapa tahun ini tapi ketika aku duduk dibangku SMA aku mempunyai dua teman
yang sangat amat baik padaku.Mereka aditya dan laras.Mereka adalah teman yang
mengerti aku dan memahami keadaanku tapi bagas dan kawan-kawan masih saja usil
dan selalu mempropokotori anak-anak lain untuk membenciku sedangkan tetanggaku
sudah mulai diam membisu seperti patung pancuran ketika aku mengisolasikan diri
dari masyarakat sekitar selama beberapa tahun ini saat tidak ada seorang teman
pun dalam hidupku.Aku hanya keluar rumah untuk keperluan penting saja dan untuk
sekolah.Aku malu dengan keadaanku semakin besar malah semakin alay, aku takut dunia akan mengusirku,
sobat.
Ketika
pelajaraan sekolah telah dimulai.Aku begitu tenang mendengar ceramah ibu guru
tetapi saat kelas membicarakan tentang cita-cita aku merasa malu ketika ibu
guru Tanya kepadaku.
“ dino,
kira-kira cita-citamu nanti apa ya..” Tanya bu guru.
“ jadi WARIA
bu…ha ha ha ha ha ha..” sahut bagas dan semua teman-teman tertawa mengejek.
Seketika
jawaban bagas yang mengejek langsung membuat aku sakit hati.Rasanya sakit itu
sampai menusuk tulangku dan belum aku sempat menjawab pertanyaan bu guru, bagas
sudah mendahuluinya dengan asal bicara seperti itu tanpa piker panjang aku pun
berdiri dengan sedikit rasa emosi dihatiku.
“ Aku memang
tak sempurna,apapun cita-citaku bukanlah jadi WARIA, dan perlu kalian ingat
bahwa WARIA pun adalah manusia yang patut kita hargai dan hormati serta jikalau
kita mengaku sebagai umat beragama dan mempunyai agama, tidak seharusnya kita
merendahkan mereka ataupun menghina mereka.WARIA pun patut dlindungi seperti
perempuan layaknya.Kalian tidak berhak menghakiminya.Tuhan saja tidak sampai
seperti itu terhadap WARIA, apalagi kalian sebagai manusia, seharusnya kalian malu.memangnya kalian sudah
pantas masuk surganya Tuhan apa, bisa bilang seperti itu, teman-teman please don’t judge by its cover.Aku
memang banci tapi aku yakin semua adalah kehendak Tuhan.Tolong hargai aku
sebagai manusia seperti kalian menghargai diri kalian sendiri.” Ujarku sambil
meneteskan airmataku yang sudah lama aku tahan sedari tadi.
Tetapi
anak-anak sekelas setelah mendengar perkataanku tadi malah menyorakiku dan
menertawakanku sekaligus melempari aku dengan sobekan kertas.Memang begitu
pedih rasanya.seakan-akan dunia ini penuh dengan api yang telah membakar hatiku
hari ini.Sedikit demi sedikit aku mempunyai niat-niat untuk merubah sikapku ini
menjadi sikap selayaknya laki-laki dan aku ungkapan niatku ini ke aditya dan
laras.Mereka pun antusias untuk membantuku.
“ baiklah,
dino.kamu harus mulai dengan jalanmu yang seperti perempuan menjadi seperti
laki-laki.” Kata aditya.
“ iya, kamu
pasti bisa..” dukung laras dengan menebarkan senyumnya.
“ lalu..apa
yang harus aku lakukan sekarang” tanyaku.
Kemudian
Aditya memberikan contoh bagaimana cara berjalan laki-laki itu dengan baik dan
gagah.Aku pun menirukannya sampai berulang-ulang.Semua terasa begitu sulit
sobat, aku sampai patah arang tapi mereka terus menyemangatiku.Aku terus
mencoba, sedikit-sedikit bisa sedikit tidak bisa.Selain itu aku pun mengikuti
pencak silat,aku berharap dengan pencak silat aku bisa merubah segalanya tapi
terlalu keras sehingga aku pun keluar dari organisasi ini selain keras juga
penuh dengan masalah.Aku masih tersungkur dalam penderitaanku ini.Aku sudah
mencoba semua segala cara untuk berubah tapi semua hasilnya nihil.Segala
sesuatunya membuat aku selalu bersedih dan sedikit-sedikit rasa takut
menyelimutiku hingga rasa bunuh diri itu ada dibenakku lagi tapi karena Tuhan
dan ibu aku selalu takut melakukannya hingga aku memilih bersabar dalam hidup
ini dan melupakan perbuatan yang dilarang agama itu,memang tak mudah hidup di
dunia ini bagi orang seperti aku ini.
***
Perjalanan
hidupku masih begitu panjang untuk mengarungi hidup ini.Aku masih tersungkur
dalam dilema cobaan Tuhan.Pagi ini aku merasa malas untuk bangun dari ranjangku
dikamar tidur.Aku ingin rasanya bisa tidur untuk selamanya agar
celotehan-celotehan orang-orang tak pernah aku dengar lagi.Tapi mau apa dikata,
semua ini adalah sebuah takdir Tuhan
yang harus aku jalani walau semua begitu sulit dan pedih.Tanpa aku sadari
sedikit demi sedikit hidungku mengalami pendaharan (mimisan) yang sangat
hebat.Darah itu terus mengalir dan membuat aku harus memanggil ibuku untuk
membantuku.sobat, mimisan ini sudah aku alami berulang kali sejak kecil tapi
ibu menganggapnya mimisan biasa saja tapi kali ini pendaharan itu membuat aku
pingsan dan ibu bersama ayah membawa aku ke puskemas terdekat.Ayah memang
membenciku tapi dia hanyalah seorang ayah kalau anaknya sakit pasti dia juga ikut
cemas,dia Cuma tidak suka dengan sikap saja yang kewanitaan.Sesampainya di
puskemas dokter memeriksa aku dan ia memanggil ayah dan ibu untuk berbicara
sebentar diruangan dokter itu,
“bagaimana
dengan anak kami dok.” Tanya ibu.
“ maaf ibu
dan bapak sebelumnya, anak saudara jika
saya mendiagnosa dia terkena kanker darah bu, atau sering disebut leukemia.
Dan kanker itu sudah mejadi kanker darah
stadium empat.” Ucap dokter sambil menunjukan hasil scannen penyakit itu yang ada ditubuhku.
“apa dok,
bagaimana mungkin. Dokter salah mungkin.” Ibu mengelak.
“tidak bu,
ini bukti klise dan scannennya.” Tunjuk dokter.
Ibu pun
menangis dipelukan ayah tapi ayah malah melontar kan kata-kata yang tidak
mengenakan hati.
“ biar saja
anak itu cepat mati.” Kata ayah.
“ ayah..”
kata ibu sambil berdiri dan menatap wajah ayah dan setelah itu ia meninggalkan
tempat itu sambil berlari.
Sebenarnya
ibu tidak percaya dengan diagnosa dokter itu kemudian ibu mengajak aku ke
dokter lainnya.Ternyata sobat, hasilnya sama, bahwa penyakit kanker darah itu
benar adanya.Aku pun lemah tak berdaya setelah aku tau kalau dokter itu memVonis aku dengan penyakit leukemia apalagi kali
ini umurku kata dokter itu diperkirakan tinggal enam bulan lagi.Sungguh miris
dan sangat menyedihkan cobaanku datang lagi kali ini, apa karena Tuhan sayang
sama aku atau justru Tuhan benci aku karena sikapku seperti wanita.Tidak! ini
adalah cobaan karena Tuhan sayang sama aku.Hampir tiap saat aku menangis dengan
segala penderitaanku ini dan lagi-lagi airmata suci ini jatuh tak terkira dan aku
menyembunyikan dari ibu tapi tiba-tiba ayah menyeret aku ke kamar mandi dan
mengunciku disana.Aku pun menangis dengan keras dan ibu marah pada ayah.Mereka
bertengkar hebat Cuma gara-gara aku.Mereka saling bantah-bantahan sedangkan aku
hanya menangis dengan keras didalam kamar mandi dan semua itu tidak membuat ibu
dan ayah berhenti dalam bertengkar.
“ sama anak
sediri, kok ya dibenci.ayah macam apa kamu.” Ujar ibu.
“ dia bukan
anakku, jangan menyebutkan aku ayah untuknya.dia bukan anakku.”
“karena dia
banci begitu, dasar kamu.tidak pernah
bersyukur dalam hidup.”
“ aku ingin
dia mati.” Centus ayah dengan penuh emosi.
Ayah langsung
menampar ibu dan ibu tampaknya menangis setelah itu ayah pergi dari rumah.Aku
hanya pasrah kali ini semuanya terlalu sulit.Seandainya aku tercipta sempurna
layaknya laki-laki mungkin semua ini tidak akan terjadi.Tuhan kapan aku
bahagia.tanyaku dalam hati yang masih bergelimang dalam air bak di kamar mandi.
***
Leukimia itu
akhirnya kambuh lagi setelah beberapa minggu.Aku pun di opname di rumah sakit dan aku sudah tak berdaya kali ini.Aku merasa
sudah terlalu sedih hidupku dengan berbagai duri-duri tajam yang tersebar dalam
kehidupanku.Aku rasanya tak sanggup lagi Tuhan, jika memang ini sudah waktunya
aku harus kembali padaMU aku siap kali ini.Tapi sebelumnya aku mohon izinkan
aku memeluk kebahagiaan dalam hidupku untuk yang pertama dan terakhir.Aku ingin
melihat ibu tidak menagis lagi dan ayah tidak membenciku lagi.Aku ingin mereka
berdua menyanyangiku seutuhnya.Detik demi detik, hari demi hari aku lalui di
rumah sakit ini.Aku semakin hari semaki lemah tak berdaya tapi aku masih bisa
sedikit bicara sama ibu walau terbata-bata.Lidahku yang kaku dan tubuhku yang semakin
kurus membuat ibu harus meneteskan airmtanya lagi.
“
iiii..buuu.akkuu minta ibu tulis sesuatu di kertas itu.” Pintaku dengan
terbata-bata dan skuat tenaga.
“ apa
sayang..” ibu mengambil kertas itu dan siap untuk menulis.
“ tulis ibu,
Tuhan, kapan aku bahagia…..??”
Ibu pun
menulisnya dan aku menyuruhnya untuk memasukaknnya dalam balon dan aku minta
ibu untuk menerbangkannya melalui jendela kamar rumah sakit dan aku pun melihat
balon itu terbang dengan tersenyum.Beberapa hari kemudian, ayah datang ke rumah
sakit dan meminta maaf padaku tapi keadaanku sudah dalam keadaan koma sobat,
sebuah penyesalan dari ayah sudah terjadi.Dia sudah menyia-nyiakan aku selama
tujuh belas tahun lamanya.Aku koma selama dua bulan tapi akhirnya Tuhan
mengambilku juga dengan tangannnya.Ibu dan ayah pun menangis histeris didepan
jasadku,
“ apakah ibu
mau memotong dan menyimpan rambut anak
ibu untuk disimpan sebelum dimakamkan?” Tanya suster itu.
“ baik
sus…silahkan.aku sangat menyanyanginya.” Kata ibu sambil terus menangis.
Akhirnya
rambutku dipotong dan disimpan oleh ibu jika sewaktu-waktu dia kangen sama
aku.Ibu dan ayah harus kuat dan yakinlah anakmu ini akan melihat kebahagiaan
yang nyata dirumah Tuhan walau itu bukan didunia tapi percayalah kalau Tuhan
sayang sama dino.Aku sudah bahagia melihat ibu dan ayah baikkan dan akan selalu
menyanyangiku lagi walau aku sudah pergi jauh.
SEKIAN

