Puisi Corona Virus

JENGGALA BAGI CORONA VIRUS


Dunia menjadi jenggala bagi virus corona yang merajalela
Sedetikpun, ia tak akan berhenti bergerilya meracuni manusia
Ia bermula dari Wuhan dan menyebarkan ke berbagai negara
Kini Covid 19 membuat paranoid para bangsa di alam semesta

Percayalah, ia dikirim Tuhan untuk menguji hambanya
Jangan ada rasa ragu dan risau untuk melawannya
Cegahlah dengan kebersihan karena kebersiha itu sebagian dari iman
Katakan Tidak pada corona virus, tetap dirumah saja dan jangan kemana-mana

Para mediss dan relawan tetaplah semangat untuk menolong sesama
Terima kasih pada dokter dan perawat serta relawan, engkau malaikat tanpa sayap
 Percayalah, Tuhan sudah mempersiapkan nirwana terindah untukmu
Para ahli, kami yakin bahwa akan segera menemukan obatnya

Hiduplah negeriku, semangat bangsaku karena corona pasti berlalu
Kita pasti akan kembali ke lelangon terindah yang seperti dulu
Teguhkanlah hati, tenangkan jiwa dan pikiran bahwa badai pasti berlalu
Semoga Tuhan segera memusnahkan Coid 19 ini dari seantero mayapada

Bojonegoro, 03 Mei 2020
karya  : Imam Aris Sugianto
Asal  : Padangan-Bojonegoro

#Cerpen Romantis dan Percintaan #CerpenMemanusiakandirisendiri

Be Mine Love

 

“Lebih baik aku mati, aku sudah kehilangan harkat dan martabatku sebagai seorang wanita gara-gara cowok brengsek itu. Tuhan, kenapa semua ini harus terjadi pada hidupku…aaaaaa” teriakku dengan penuh emosi.

 

Aku yang berdiri tegak diatas gedung sekolah. Berniat ingin bunuh diri karena sebuah harga diri yang sudah tidak bisa dihargai lagi. Ulahku sendiri karena memohon cinta yang tak pasti kepada cowok  yang aku cintai. Aku lupa menghargai diriku hanya karena sebuah cinta.

 

Siswa-siswi dan guru-guru sudah saling berusaha menenangkanku dari bawah gedung. Aku berusaha loncat dan mengakhiri hidup ini. Tiba-tiba ada seorang cowok dari arah belakangku bergeming.

 

“Memang dengan kamu bunuh diri, kamu bisa mengembalikan harga dirimu atau harkat dan martabatmu yang selama ini terinjak-injak olehnya.” Kata cowok itu.

 

Aku terdiam. Aku tetap kekeh berusaha menolak kenyataan yang terjadi. Benakku memutar kembali peristiwa apa yang terjadi sebelumnya. Semua terekam jelas tanpa buram sama sekali. Luka itu menyayat hatiku sedalam ini.  

 

Plakkk…

 

Tamparan itu menghempas pipiku yang kesekian kalinya. Airmataku menetes pilu. Mahen masih menatapku penuh emosi. Aku terjatuh tepat dibawah kakinya.

 

“Sudah berapa kali aku bilang kita itu sudah putus sejak Anniversari jadian kita yang kemaren, Shasa Sastranegara.” ujar dia tegas tanpa perasaan.   

 

Aku berdiri dengan menguatkan hati yang begitu rapuh. Bibirku kelu menatap dia penuh cinta. Ia membalikkan badannya untuk pergi. Langkahnya pasti.

 

“Tapi apa alasannya, kamu putusin aku begitu saja tanpa alasan yang jelas, hen.” teriakku.

 

Mahen berusaha membalikkan badannya dan menatapku dari jauh.

 

“Keadaan yang membuat kita harus putus, kita sudah tidak sejalan lagi…” tukasnya dengan penuh emosi.

 

Airmataku semakin deras. Andai dia tahu jika aku masih mencintainya dengen sepenuh hati.

 

“Jangan ganggu aku lagi, Shasa Sastranegara..” pintanya penuh penekanan.

 

Hatiku semakin hancur dan patah. Kala itu juga, tiba-tiba hujan jatuh membasahi bumi. Suara gemuruh hujan dan petir saling bersahutan. Mahen berlari menembus hujan yang begitu deras. Sementara aku tersungkur ke tanah dan tak berdaya dengan tangisan tak terbendung.

 

Mahen meninggalkanku sendirian di taman itu. Aku yang masih memakai seragam SMA basah kuyup tanpa ada yang peduli. Tangisanku semakin menjadi karena hatiku sudah berhasil dipatahkan oleh orang yang begitu aku cintai. Padahal apapun aku lakukan untuk dia. Apa dia tidak ingat jika kita pacaran sudah sejak kelas satu SMA. Dua tahun sudah kita jalani bersama namun tiba-tiba dia berubah dengan sebuah alasan keadaan yang tak sejalan.

 

Sebelumnya dia memang memutuskan hubungan ini ketika aniversari kedua kemaren. Tepat hari peringatan jadian kita Mahen mengakhiri hubungan ini. Namun aku masih terobsesi bahwa Mahen adalah cinta sejati yang selama ini aku cari. Entah mengapa hingga detik ini aku belum sempat move on darinya. Aku masih memohon dia kembali.

 

Iya, mungkin aku adalah wanita yang tak punya harga diri. Aku tidak bisa menghargai diriku sendiri hanya karena sebuah cinta tanpa kepastian. Mungkin aku sudah gila dengan laki-laki itu. Sosok Mahen yang keren dan dingin. Asal tahu saja, aku hanya ingin menuntut Hak atas cintaku kepadanya. Aku tidak terima alasan dia mengakhiri hubungan ini.

 

***

Matahari tepat di atas kepalaku. Mataku berusaha menyelidik dan mencari sosok Mahen di lapangan basket sekolah itu. Ini sudah memasuki hari ketujuh aku memohon agar Mahen kembali padaku. Aku tahu seharusnya aku berhenti melakukan tindakan bodoh ini. Aku merasa harga diriku sebagai seorang wanita sudah diinjak-injak olehnya.

Hahaahahhahhaahhaah…..

Aku benar benar sudah gila. Tergila-gila atas nama cinta. Terobsesi yang aku anggap sebuah cinta sejati. Aku menghela nafas perlahan dengan sebuah harapan dia muncul dihadapanku.

“Sha…”

Sebuah suara lirih terdengar sayup. Aku terperangah dan berusaha memutar kepalaku ke kiri. Aku kenal sekali suara itu. Iya itu suara Mahen dari arah belakangku. Tiba-tiba tangannya menyentuh pundakku. Dia berdiri tegak dihadapanku, wajahnya kelabu seolah dia tak ingin aku ganggu lagi. Tatapannya tajam dan tiba-tiba dia tersenyum kecut padaku.

Mahen mengajakku ke perpus. Aku merasa ada sambutan cintaku kembali dalam hatinya. Kita duduk di ruang baca. Aku merasa mendapatkannya dia kembali.

“Sha, aku bahagia sha…” cakap Mahen sambil senyum manis.

Aku sambut senyuman dia dengan penuh sukacita.

“Aku sudah mendapatkan penggantimu, Sha….” Lanjut Mahen.

Hatiku terasa tersambar petir ketika mendengar berita itu. Airmataku mulai membasahi pipiku dengan diam seribu bahasa. Senyuman manis yang aku torehkan tadi berubah sayu dan kecut. Tetesan airmataku mulai jatuh membasahi meja.

“Aku merasa nyaman dan bahagia banget sama dia, Sha. Aku percaya dia adalah cinta sejatiku yang selama aku cari, setelah lulus nanti aku akan melamar dia dan menikahinya” lanjut Mahen bercerita sambil menatap Shasha.

Aku hanya tersenyum namun airmataku mengalir deras didepannya. Isak tangisku mulai bergemuruh. Hatiku hancur berkeping-keping.

Seharusnya sejak awal aku tak pernah berharap cinta yang sudah tak bisa dipertahankan. Aku itu cuma ingin memperjuangkan hak asasi manusia atas cinta. Hati perempuan mana yang tidak sakit ketika kekasih hatinya tiba-tiba mengakhiri hubungan ini hanya karena keadaan yang menurut dia tak sejalan. Sayangnya, Mahen tidak menjelaskan keadaan yang mana yang tak sejalan. Menurutku alasan itu klise dan andai saja aku tak percaya bahwa dia bukan cinta sejatiku, mungkin aku tak perlu mempertaruhkan harga diriku sebagai seorang wanita.

Pevita-sahabatku tiba-tiba datang menghampiri kita. Aku langsung berdiri dan memeluknya erat dengan tangisan yang menggebu.

“Sha, aku tahu betapa hancurnya hatimu. Kamu sudah mempertaruhkan harkat dan martabatmu sebagai seorang wanita, sabar ya Sha…” ceritaku kepadanya.

Aku melepaskan pelukan itu dan menatap Pevita penuh sendu. Seketika itu Mahen berdiri dan menatapku tajam.

“Sha, kenalkan ini kekasih kekasihku-Pevita…”terus terang Mahen.

Aku tersentak bagaikan serangan jatung seketika itu. Mulutku seolah tak bias berkata-kata. Sementara airmataku semakin deras mengalir membasahi pipiku.

“Kamu tega ta, mengkhianati sahabatmu sendiri. Padahal kamu tahukan harga diriku, harkat dan martabatku sebagai taruhanya hingga aku tidak menghiraukan apa arti menghargai diriku sendiri sebagai seorang perempuan, bahkan hanya gara-gara cinta ke cowok brengsek ini aku lupa memanusikan diriku sendiri..” Marahku begitu penuh emosional dan menatap Pevita penuh amarah.

Pevita hanya terdiam. Dia bingung ingin berkata apa untuk membela dirinya. Mahen berusaha menyingkirkan dari hadapan Pevita namun aku berusaha menghempasnya.

“Dan satu hal lagi, Ta. Kamu dan Mahen adalah orang yang tidak bisa memanusiakan manusia lain walau itu sahabatmu sendiri…” ujarku sambil menuding- nuding mereka.

“Semoga kalian bahagia, semoga Mahen bias membuatmu bahagia dan tidak menduakmu seperti yang dilakukannya kepadaku..” lanjutku penuh dengan kebencian.

Aku pergi dari tempat itu dengan perasaan begitu hancur yang lipat-lipat. Rasanya dunia ini runtuh dan gelap. Aku menyesal telah memohon cinta pada manusia yang aku anggap cinta sejatiku. Aku menyesal telah membiarkan harga diriku diinjak-injak cowok itu. Harkat dan martabatku seolah sudah tidak berharga lagi.

***

Pikiranku kembali  ke cowok misterius yang berusaha membuka pikiranku dari perbuatan bunuh diri. Aku masih berada diatas gedung itu dan cowok itu masih dibelakangku dengan segala ceramahnya.

 

“Tuhan tidak akan menerima rohmu dan akan  kamu tidak akan pernah bahagia meskipun kau mati, masalah tidak akan selesai jika kamu mati begitu saja, Shaha Sastranegara..” ucapnya.

 

Dia tahu nama lengkapku. Aku berusaha meliriknya.

 

“Siapa kamu….”

 

“Makanya jadi cewek jangan gampangan…”

 

“Cukup…”

 

Aku memutarkan tubuh ini ke hadapannya. Aku berusaha maju mengahmpiri cowok itu. Cowok cupu tapi penuh kahrisma. Bila terus ditatap ia sangat amat tampan dibalik kaca matanya.

 

“Seharusnya kamu bisa memanusiakan dirimu sendiri, tidak ceroboh mempertaruhkan harga diri demi cinta. Cinta bukan segalanya namu hidup perlu cinta untuk saling bahagia...” tukasnya pasti.

 

“Terus saja mengolok-olokku..” ujarku.

 

“Lain kali jadi cewek pandailah menghargai dirimu sendiri...” cetus dia sambil meninggalkan ku secara perlahan.

 

Cowok itu berhenti bergerak dari langkahnya. Lalu kembali memutarkan tubuhnya dan melempar senyum untukku.

 

“Oh ya, kenalkan aku Aldo, aku murid pindahan dari Surabaya, salam kenal Sasha Sastranegara….” lanjutnya lagi lalu pergi begitu saja.

 

Aku mulai merenungkan semua perkataannya tadi. Aku mulai gelisah dengan hidupku. Aku pun langsung tersungkur diatas gedung itu. Mulai menangis lagi dengan apa yang barusan akan aku lakukan. Bunuh diri karena cinta, seharusnya itu tidak pernah terjadi. Mulai detik ini, aku harus pura-pura melupakan tidak pernah terjadi apa-apa dalam hidupku maupun cintaku di masa lalu. Cukup, kali ini aku tersakiti olehnya.  

_-Sekian-

Karya   : Imam Aris Sugianto

Cerpen Cnita Remaja "Tamasya Cinta"



 #Cerpen                                      "Tamasya Cinta"


Ia masih berdiri tegap menatap bentangan sawah dihadapannya. Tangannya bersedekap. Rambutnya terurai panjang hingga sebahu. Tubuhnya yang cendayam membuat dirinya tampak lebih anggun dengan pakaiannya yang kasual. Dipunggungnya sudah menggendong ransel besar. Disampingnya sudah ada motor gede yang akan membawanya pergi kemana saja dia mau. Ia memang cendrawasih yang bebas terbang kapanpun dia inginkan. Seumur hidupnya baru kali ini ia akan melancong menuju tempat wisata bersama tambatan hatinya. Sesekali ia melihat jam tangan yang sudah melekat ditangan kirinya. Raut wajahnya tampak memancarkan kegelisahan. Kabar dari sang pacar tak kunjung datang. Sementara kemelut mendung hitam berarak terhempas angin membawa hatinya semakin gusar. Sesaat kemudian, satu sms masuk dalam HP-nya. Wajahnya kembali tenang dan sumringah. Ia bergegas mengemudikan motornya dan meninggalkan tempat itu.
Matanya berbinar terang. Senyumannya merekah bagai delima. Setiap dalam perjalanan, dia terus berharap cintanya akan selalu bersemi dan memberikan kenangan terindah melalui pertualangannya di tempat wisata tersebut. Ia melewati hutan jati yang hijau dan rindang. Perjalanan yang hampir memakan waktu satu jam setengah dari kampung halamannya itu membuatnya semakin lelah. Sesampainya di lokasi wisata, tepat di depan sebuah gapura, ia langsung berhenti dan memakirkan motornya.
Kini ia berada di tempat wisata Kayangan api di Kabupaten Bojonegoro. Salah satu obyek wisata yang sangat terkenal di Bojonegoro.  Kayangan api merupakan sumber api abadi atau api yang tidak pernah padam sekalipun. Api yang keluar adalah sumber api alam dan merupakan sumber api terbesar di Asia tenggara. Kayangan api tersebut terletak di Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, sebuah desa yang memiliki areal hutan seluas 42,29 % dari luas desa.
Ia pandangi keadaan sekitar dengan penuh seluruh. Dia tampak celingak-celinguk mencari seseorang. Ia terus menunggu. Hatinya gusar dan bimbang. Perasaannya dipenuhi rasa takut jika kekasihnya tidak datang menepati janjinya. Dirinya mondar-mandir di depan gapura wisata tersebut seperti bidadari kehilangan selendangnya. Sementara udara dingin terkibas sejuk dari pohon-pohon rindang di sekitar hutan tersebut. Angin itu menerpa tubuhnya sehingga membuatnya mengigil dan menelungkupkan kedua tangannya diatas dadanya. Matanya masih menyelidik tajam mencari kekasihnya yang tak kunjung datang. Dia semakin bosan untuk menunggu. Apa dia berbohong, Tuhan, pikirnya. Sudah satu jam ia menunggu namun kekasihnya belum juga datang.
Airmatanya mulai menetes dan membasahi pipinya. Lalu ia mengusapnya lembut hingga kering tiada tersisa. Ia mulai ragu dengan cintanya. Kini ia putuskan pulang saja namun sesaat sebelum ia bertindak meninggalkan tempat itu, ada suara seseorang memanggilnya. Ia terhenti sejenak dan mendengarkan suara yang berasal dari balik tubuhnya.
“Fitri…” panggil seseorang itu lagi.
Cewek itu membalikkan tubuhnya dan terkejut melihat siapa yang memanggil namanya. Seorang cowok melambaikan tangan kearahnya sambil tersenyum manis padanya.
            “Haston…” pekiknya sambil tersenyum.
Haston-kekasihnya itu baru datang menemuinya. Mereka saling berjalan menuju satu arah hingga raga mereka bertemu satu sama lain. Hatinya Fitri yang tadinya sedih menjadi bahagia. Rasa takutnya menjadi kekuatan untuk cintanya.  
            “Kenapa kamu baru datang, sayang…” tanya Fitri lembut.
            “Aku sengaja membuat kamu menunggu biar aku tahu seberapa kuatkah kesabaran cintamu untukku...” jawab Haston santai.
            “Apa kurang cukup aku menerima tawaranmu untuk menguji cinta kita melalui pertualangan perjalanan wisata ini untuk menumbuhkan rasa saling percaya diantara kita…” seloroh Fitri.
“Rasa saling percaya diantara cinta kita akan terbukti jika kita berdua bisa melewati segala rintangan dalam perjalanan wisata kita hingga di lokasi wisata terakhir nanti, sayang…”  tukas Haston serius.
Fitri hanya menghela nafas dalam-dalam. Cewek itu langsung tersenyum tipis lalu menggandeng tangan kekasihnya. Mereka berdua langsung melangkahkan kakinya menuju sebuah gapura yang mempunyai jajaran tiang yang berdiri megah didepannya.
Kini mereka memasuki area api kayangan. Mata mereka berdua tertuju pada sebuah tiang yang berjajar. Ditengah tiang tersebut terdapat lingkaran batu yang mengeluarkan gelombang panas dan menjadi tempat dimana api abadi tersebut bersemayam. Hatinya membuncah kegirangan melihat sebuah api yang tidak pernah padam. Bagi mereka lokasi wisata yang mereka kunjungi akan menjadi lelangon atau teman tempat bersuka-suka untuk cintanya. Namun konon ceritanya, api kayangan yang mereka kunjungi tersebut menurut masyarakat sekitar percaya bahwa lokasi api kayangan itu menjadi tempat bersemayamnya Mbah Kriyo Kusumo atau Mbah Supa, atau biasa dipanggil dengan Mbah Pande yang berasal dari kerajaan Majapahit. Mbah Supa merupakan seorang pande besi yang biasa membuat alat-alat pertanian dan pusaka. Didekat api kayangan itu terdapat kubangan lumpur yang terletak di sebelah barat api kayangan dan berbau belerang. Masyarakat percaya bahwa Mbah Supa masih beraktifitas sampai sekarang. Tempat api kayangan tersebut menjadi tempat yang sangat sakral. Api yang ada hanya boleh diambil jika ada upacara yang sangat penting seperti upacara Jumenengan Ngarsodalem Hamengku Buwono X dan untuk mengambil api harus melalui suatu prasyarat yaitu selamatan atau wilujengan dan tayuban dengan menggunakan fending eling-eling, wani-wani dan gunungsari yang merupakan gending kesukaan Mbah Kriyo Kusomo.
Mereka berdua menikmati suasana wisata tersebut. Angin sepoi-sepoi menghempas tubuh mereka hingga terasa sejuk dan dingin. Setelah sekian menit termangu menikmati indahnya api abadi tersebut, mereka langsung mengambil foto selfi berdua. Setelah itu mereka melanjutkan pertualangan ke tempat wisata berikutnya. Masih ada dua tempat wisata yang mereka harus kunjungi. Bagi Fitri yang menjadi masalah dalam hal ini adalah dia harus mengendarai motor sendirian dan terpisah dengan sang pacar untuk menuju tempat wisata itu. Entah kenapa perasaannya seringkali was-was dengan keadaan jalan raya yang semakin siang semakin padat merayap. Tapi ini menjadi tatangan bagi dirinya untuk menguatkan cintanya bersama Haston.
Mereka memulai kembali perjalanan wisatanya menggunakan motor tersebut. Fitri dan Haston terpisah jarak dan waktu menuju tempat itu.  Bagi Fitri menguji cinta diri sendiri itu adalah hal yang konyol.  Tak pernah sama sekali terpikir olehnya. Semua rencana telah disusun rapi oleh Haston. Ia pengen sekali membuktikan cinta itu. Seberapa percayanya hati mereka akan cinta itu. Seberapa kuatkah cinta diantara mereka. Lebih asyiknya lagi mereka memang benar-benar tidak berangkat bersama alias sendiri-sendiri dengan jarak dan waktu yang berbeda. Itulah yang akan membuat konsistensi pada cinta mereka. Menumbuhkan Integritas dalam diri mereka sehingga rasa saling percaya tumbuh dan menguatkan cinta mereka.
Sekarang  motor Haston melaju lebih cepat. Menyusuri  jalanan yang padat merayap dan saling salip menyalip satu sama lain. Akhirnya Ia sampai ke lokasi wisata selanjutnya. Ia berhenti dan membuka helm. Lalu ia pandangi sebuah gapura berwarna biru dan diatasnya terdapat patung kepiting raksasa. Senyumannya mengembang. Sekarang ia bergantian menunggu.  Cowok itu tampak santai. Dia duduk diatas jok motornya. Lalu dibukanya ransel yang dibawanya. Mengambil sebotol air lalu meminumnya. Hampir satu jam dia menunggu. Pujaan hatinya tidak kunjung datang. Hatinya semakin gusar. Lalu ia mengambil HP disaku celananya. Ia memencet nomer kekasihnya itu. Tapi tidak ada jawaban dari Fitri. Haston semakin bingung. Perasaannya kacau balau. Dia cemas dan takut terjadi apa-apa dengan Fitri dalam perjalanan. Sekali lagi, ia menelepon nomernya Fitri. Hasilnya tetap nihil. Pikirannya sudah mengambang kemana-kemana. Sekelebat bayangan Fitri muncul dibenaknya. Dia terlamun sejenak tentang kekasihnya itu. Tiba-tiba ada deru suara motor dan klason membangunkannya. Fitri berhenti tepat dihadapannya. Haston tersenyum lega. Fitri datang dalam keadaan baik-baik saja. Mereka berdua langsung memarkir motornya diparkiran. Mereka berdua sekarang berada di Wisata Bahari Lamongan atau sering disebut WBL. Lokasinya terletak di pesisir utara Pantai Jawa, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Mereka membeli tiket masuk seharga Rp. 55.000,- per orang karena hari biasa. Apabila hari libur atau hari jumat sampai minggu maka harga tiket seharga Rp. 75.000,- per orang. WBL buka mulai 08.30 sampai 16.30 WIB.
Fitri dan Haston memasuki areal wisata tersebut dengan sumringah.
“Inilah lelangon kita berikutnya, kita harus mengabadikan momen terindah kita disini…”
“Semoga dengan mengabadikan kenangan demi kenangan , cinta kita bisa langgeng ya..”
“Amiin..”
Pandangan mereka menebar ke penjuru arah. Mereka sangat antusias dengan semua ini. Mereka segera menikmati suasana dengan berbagai wahana di tempat tersebut. Dari kejauhan tampak sebuah laut terbentang luas dan indah. Disana juga terdapat kolam renang yang besar, rumah hantu, berbagai wahana lainnya. WBL tersebut sudah berdiri sejak tahun 2004 sebagai hasil pengembangan obyek wisata yang telah ada sebelumnya, yakni Pantai Tanjung Kodok yang dipadukan dengan konsep wisata bahari dan dunia wisata memiliki areal seluas 11 hektare. WBL tersebut akan memanjakan para pengunjung dengan konsep one stop service. Tempat wisata ini didukung pula dengan hadirnya tiga wahana baru setiap tahunnya. WBL juga menyediakan fasilitas pendukung seperti Pasar Hidangan, Pasar Wisata, Pasar Buah dan Ikan serta fasilitas umum lainnya seperti Masjid, Klinik, ATM, Tempat menyusui Ibu dan Bayi, Toilet, Free WIFI, Tempat Parkir dan lain sebagainya. WBL juga terhubung dengan pantai tanjung kodok, Tanjung kodok beach resort serta Maharani zoo Goa.
Fitri dan Haston memadu kasih dengan mengabadikan setiap momen terindah melalui HP canggihnya. Mereka menyusuri pantai tanjung kodok yang elok. Bercanda bersama. Kebahagiaan itu seakan meronai mereka berdua. Selang waktu berlalu, kebahagiaan itu seolah sirna dari raut wajahnya yang ayu. Wajahnya berubah menjadi suram ketika seorang perempuan seksi berpenampilan modis dan trendi menyapa Haston lalu mereka cipika -cipiki. Perempuan itu memang terlalu genit dan menggoda. Haston dan perempuan itu terlibat obrolan yang lumayan lama. Haston seolah terpusat dengan perempuan itu. Fitri merasa tidak dipedulikan. Dirinya merasa diabaikan. Dia mundur agak menjauh. Lalu matanya menembus pemandangan di tengah laut tersebut. Rambutnya terkibas pelan karena angin bertebaran. Fitri terlamun dalam keheningan. Rasa cemburu dihatinya semakin membara dan sulit padam. Selang beberapa menit kemudian, Haston melihatnya sendirian. Ia menarik tangannya dan memperkenalkan perempuan tersebut kepada Fitri. Perempuan itu mengulurkan tangannya untuk jabat tangan. Tapi Fitri seakan tidak ingin menyambutnya. Secara terpaksa tangannya diulurkan lalu dipegangnya tangan perempuan itu.
“Hai, aku Yuli. Mantan pacarnya Haston..”   ujar perempuan itu dengan seenak mulutnya.
Hatinya tergonjang mendengar ucapan dari perempuan itu. Api emosi dalam hatinya seakan berkobar. Rasanya ia ingin menampol mulut perempuan sok cantik itu. Sementara Haston hanya terdiam dan hatinya menjadi cemas.
“Fitri, pacarnya Haston.” jawab Fitri kenes lalu meremat tangan perempuan itu.
Perempuan itu bergelinjang sedikit kesakitan. Ia menarik tangannya secara kasar. Lalu matanya mendelik dan menyelinap memandangi Fitri dengan penuh kebencian. Haston berusaha melerainya. Perempuan tersebut sewot. Lalu dia pergi begitu saja tanpa pamit dari hadapan mereka. Haston seperti tidak bisa berkata-kata. Dia kebingungan mencari kata. Hatinya Fitri penuh tanda tanya.
“Apa kamu masih ada hubungan cinta sama mantanmu itu..”
“Tidak..”                                                                                       
“Lalu kenapa kamu tadi sok mesra sama dia., hatiku sakit, Haston., “
“Sabar, maafkan aku…”
“Sebenarnya kamu mengajak aku pergi traveling sebagai ajang untuk menguji cinta kita atau hanya untuk menyakiti hatiku  saja…”
“Tidak, semua ini hanya kebetulan saja. Maafkan aku…”
Kemudian dia berlari meninggalkan Haston ditepi pantai. Haston berusaha mengejarnya hingga tepat diparkiran mereka berhenti. Fitri meneteskan airmata cinta. Dia takut kehilangan kekasihnya. Haston membalikkan tubuh Fitri ke hadapannya.
“Kamu marah, kamu sakit hati, aku akui salah maka maafkan aku…”
“Kamu tega, kamu tega membuatku begini, seharusnya kita bahagia di obyek wisata tersebut bukan membuatku bersedih..”
“Maafkan aku….”
“Aku ingin pulang saja.., sudah cukup rencana konyolmu ini…”
“Maafkan aku, percayalah kalau ini ujian buat cinta kita, kita harus kuat Fitri, buktikan pada dunia kalau cinta kita berdua itu tidak akan pernah pupus walau badai menerjang, kita tetap akan satu, percayalah…”
“Kamu janji bahwa kamu tidak akan pernah menyakiti hatiku lagi.”
“Janji..”
Seketika itu Fitri memeluk erat tubuh Haston dengan penuh perasaan. Haston membelai rambutnya lembut. Pelukkan keduanya dilepaskan. Haston mempersilahkan Fitri mengambil motornya.
“Mari kita menuju lelangon kita berikutnya…, dan kamu harus percaya bahwa kita adalah cinta sejati…” tukas Haston penuh percaya diri.
Fitri hanya menganggukan kepalanya. Senyumannya merekah diiringi bibirnya yang merah karena gincu yang dipoleskannya. Mereka berdua langsung bergegas mengambil motornya masing-masing. Mereka kembali melanjutkan perjalanannya menuju obyek wisata yang terkahir. Kali ini obyek wisata yang akan mereka berdua kunjungi bisa memakan waktu kurang lebih selama tujuh jam perjalanan. Mereka harus kuat apalagi mereka berkendaraan motor sendiri-sendiri dan  terpisah pula.
Terik matahari semakin panas. Mereka tetap melaju menyusuri jalanan yang penuh polusi. Melewati segala penjuru arah untuk menggapai tempat terakhir untuk pembuktian cinta mereka. Dalam perjalanan Fitri sebentar-sebentar istirahat ditepi trotoar sambil sesekali jajan. Sementara Haston kebut-kebutan di jalan. Ia ingin segera sampai tempat tujuan. Dia ingin lekas menyatakan sesuatu rahasia penting kepada Fitri. Sekian lama dalam perjalanan, Fitri dan Haston sudah berada di sebuah jalan menanjak dan berliku namun ditempat yang berbeda. Mereka berhenti dan menikmati sore di pinggir jalan sambil menikmati pemandangan bukit dan pegunungan di sekitar mereka. Kabut tebal tergiring angin diatas pegunungan. Suasana dingin yang menyerang tubuh mereka terasa sejuk dan menghilangkan rasa lelah selama dalam perjalanan.
Sore itu, matahari tampak hampir kembali dalam peraduaannya. Sesaat setelah menghirup udara segar Fitri maupun Haston melanjutkan perjalanannya menuju Bromo. Setelah satu jam  kemudian,  mereka sampai dipemukiman warga sekitar gunung Bromo. Tapi hari telah malam. Saat itu juga mereka menemukan kerumunan orang-orang membawa obor di desa Wonokerto. Haston berhenti. Ia menunggu kedatangan Fitri. Selang kemudian, Fitri datang membelakanginya. Mereka berdua saling melempar senyum dan mengikuti warga melakukan adat istiadat mereka. Tepat malam ini, masyarakat tengger mengadakan upacara Yadnya Kasodo. Upacara diadakan tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar 14 atau 15 dibulan Kasodo (kesepuluh) berdasarkan penanggalan Jawa. Gunung Bromo merupakan gunung berapi yang masih aktif dan paling popular sebagai obyek wisata Jawa Timur. Bromo memiliki ketinggian 2.392 meter diatas permukaan laut dan berada dalam wilayah Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang. Bentuk tubuh gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas 10 kilometer persegi. Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah kurang lebih 800 meter (utara-selatan) dan kurang lebih 600 meter (timur-barat). Daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo. Masyarakat sekitar menganggap Bromo sebagai gunung suci.
Haston dan Fitri menikmati pertujukan di pendopo mengenai kisah tentang gunung Bromo. Setelah acaranya selesai, mereka berdua mengikuti para warga dan pendeta hindu untuk melakukan upacara di Pura didekat gunung Bromo. Haston dan Fitri tampak sangat bahagia bisa melihat semua yang ada ditempat itu. Mereka menikmati keindahan malam itu hingga dini hari. Setelah itu pasangan kekasih tersebut melanjutkan perjalanan menuju penanjakan di gunung Bromo, untuk melihat matahari terbit dari sana. Malam yang sangat dingin tak membuat mereka menyerah. Mereka berdua berusaha menggapai atas penanjakan. Akhirnya takdir membuat mereka berdua sampai disana. Sudah banyak orang berkumpul di penajakan itu hanya ingin melihat matahari terbit. Beberapa sesaat kemudian, matahari terbit (Sunrise) tersebut tampak muncul diatas gunug Bromo tersebut. Haston dan Fitri terkesiap menikmati dan terus memandangi matahari terbit itu diatara kerumunan orang. Haston segera menghadapkan tubuh Fitri ke hadapannya. Tangan mereka menyatu. Senyuman mereka mengembang jadi satu. Haston mengeluarkan cincin dan memakaikan dijari manisnya Fitri.
“Sudikah kamu menikah denganku, Fitri..”
Fitri terharu dan memeluk Haston penuh cinta. 

Karya   : Imam Aris Sugianto

CERPEN SEDIH



SALAM KANGEN UNTUK AYAH
                                                
Kisah ini tentang seorang anak bernama Adit.Anak kecil berumur sembilan tahun dan duduk dibangku kelas tiga SD. Sejak umur satu tahun, adit sudah menjadi anak yatim.Dia ditinggal Ibunya meninggal dunia karena kecelakaan sewaktu perjalanan berangkat kerja.Setelah sang ibu kembali ke rahmatullah, seketika itu pula sang ayah juga pergi meninggalkan rumah demi mencari pendamping hidup dan menikah lagi dengan perempuan lain. Sekarang Ia tinggal bersama nenek dan kakeknya.

Sejak kecil sepeninggal ibunya, adit memang dirawat oleh nenek dan kakeknya.Dalam kehidupannya adit sangat prihatin.Adit seperti tidak mendapat kasih sayang dan perhatian sejak ditinggal ibu dan ayahnya.Nenek dan kakeknya sibuk bekerja sebagai petani jadi tidak begitu mengurus adit.Anak kecil itu dibiarkan tumbuh dengan hidup sebebasnya.Dia tumbuh menjadi pribadi yang sedikit brutal dan nakal tanpa pengawasan.Sebenarnya sifat kebrutalan dan kenakalannya itu hanya untuk mencari perhatian orang saja namun masyarakat sekitar seringkali menganggap adit sebagai anak nakal yang kadang mereka tidak suka atas kehadirannya.Didalam lubuk hatinya aditsangat merindukan sosok seorang ayah yang bisa membimbingnya menjadi pribadi yang baik dan santun.Tapi kenyataan tidak sesuai dengan harapannya, takdir Allah membuatnya harus menjadi seorang anak yang selalu merindukan kasih sayang orangtua.
***
Seperti biasa, setiap pulang sekolah adit merasa kesepian.Nenek dan kakeknya tidak ada dirumah karena selalu sibuk di sawah dan pulangnya sore.Terkadang semua kehidupannya membuat dirinya semakin bosan.Dia melampiaskan kekesalannya dengan segala tingkah lakunya yang nakal di lingkungan masyarakat maka dari itu membuat orang-orang terkadang benci dengannya.Bahkan ada masyarakat yang tega mengusir adit dari rumah mereka saat adit bermain disana.Tetapi terkadang masyarakat sekitar juga merasa iba dan kasihan dengannya. Seandainya dia anak yang baik pasti semua masyarakat akan menyayanginya. Namun terkadang kenakalannya membuat masyarakat jengkel dan kesal terhadapnya.
Adit hanya butuh perhatian bukan cacian.Dia butuh kasih sayang yang tulus dari orang sekitar. Walau anak kecil itu brutal dan nakal tapi dia tidak pernah lupa untuk sholat lima waktu dan setiap hari mengaji di mushola dekat rumah.

***

Suatu hari, anak kecil itu bermain sepeda bersama temannya. Namun malang tak dapat ditolak, adit mengalami kecelakaan. Dia jatuh dan wajahnya terluka parah sehingga harus dibawa ke rumah sakit.Lebih parahnya lagi, ada masyarakat yang malah tidak peduli dan mengumpat anak kecil itu karena keugal-ugalannya naik sepeda.Tapi banyak juga yang merasa kasihan terhadapnya.Disaat naas yang dialami adit, nenek dan kakeknya sedang menunggu budhenya yang sedang koma dirumah sakit.Pada waktu itu lah, adit merasa merindukan ayahnya.Anak kecil itu mulai mengharapkan sosok ayah kandungnya dalam hidupnya.Airmatanya terus mengalir membasahi pipinya.Adit menangis pilu.Dia menjerit kesakitan.Dia merasa terombang ambing dalam kehidupan.

Ketika neneknya mengetahui adit luka parah karena jatuh dari sepeda.Neneknya menangis histeris.Adit menjerit kesakitan sambil menanyakan sosok ayah yang dirindukan.

“Bapak…, Bapak, Bapak !nenek mana bapak, aku kangen. Kangen sama bapak…” teriak adit sembari menangis sesegukan.

Dia berusaha menanyakan segala informasi tentang ayahnya kepada nenek dan kakeknya. Dia sangat ingin bertemu dengan sang ayah. Namun yang didapatnya nihil.Nenek dan kakeknya tidak ingin adit tahu bahwa sebenarnya ayah adit seorang pemabuk berat dan suka bermain judi sehingga seumur hidupnya hampir tidak mengurusi dan peduli dengan keadaan adit.Adit terus bergeming meminta dipertemukan dengan ayahnya. Dimata sang nenek dan kakeknya adit hanya anak kecil yang tidak tahu menahu tentang peristiwa yang terjadi. Dimata mereka ayahnya adit adalah orang yang tidak bisa bertanggungjawab atas anaknya dan selalu ingin hidup dengan hedonisme.Maka dari itu, nenek dan kakeknya sangat membenci ayahnya adit.
Nenek dan kakeknya adit berharap suatu kelak nanti adit tidak menjadi anak yang meniru sikap ayahnya.Adit bisa menjadi orang yang berguna bagi keluarga dan mempunyai komitmen terhadap dirinya sekaligus jadi orang yang bertanggung jawab terhadap keluarganya kelak.

***

Setiap habis sholat fardhu, adit tidak lupa kirim doa kepada ibunya dan berdoa agar dia bisa bertemu dengan ayahnya. Maka dari itu dia terus berdoa agar Allah menngabulkan permohonannya. Adit juga tidak pernah berhenti kirim salam kangen untuk ayahnya didalam doanya dan terus meminta kepada Allah untuk menyapaikannya kepada Ayahnya. Dia berharap hati ayahnya disana sadar bahwa masih ada adit mengharapkannya.

“Ya Allah, sampaikan salam kangenku untuk bapak dan pertemukan aku dengannya…” doa adit dengan berlinang airmata.

Adit terus berharap  dan memohon kepada Allah yang maha kuasa agar doanya makbul.  Sebenarnya dalam hati kecilnya, adit iri dengan teman sepermainannya yang mempunyai kedu orangtua yang sangat menyayangi mereka.Setiap kali teman-temannya diantar sekolah oleh ayah mereka.Adit merasa ingin seperti mereka yang diantar jemput oleh ayahnya.Tapi kenyataannya memang tidak seindah yang ia bayangkan, semuanya terasa pilu dan sembilu.
Adit merana tanpa ada yang mengerti keinginannnya.Harapannya hanya pada Allah semata.Baginya hanya Allah yang mengerti keinginannya.Dia hanya bisa pasrah dan ikhlas atas ketetapan Allah padanya. Dia hanya bisa berharap suatu kelak nanti bisa melihat sang ayah dan memeluknya. Hanya itu yang adit inginkan saat ini. Anak kecil itutak henti-hentinya selalu mendamba akan hadirnya seorang ayah dalam hidupnya.

***
Sekian tahun ayah adit tidak pulang dari perantaun. Tepat hari ini, sang ayah pulang kampung bersama istri barunya. Sebenarnya kampung halaman sang ayah tidak jauh dari tempat  tinggal adit. Kabar tersebut langsung menjadi omongan para tetangga sehingga adit dan nenek seta kakeknya mendengar kabar tersebut.Adit merengek kepada nenek dan kekeknya agar dia bisa dipertemukan dengan ayahnya. Sebenarnya dalam lubuk hati neneknya berharap agar adit tidak bertemu dengan ayahnya karena sang nenek takut jika ayahnya tidak bisa menerima adit.

Anak kecil itubersama nenek dan kakeknya mencoba mengunjungirumah ayahnya di desa seberang.Adit berangkat dengan rasa penuh harap dan gembira.Senyumannya sumringah tanpa ada lagi kesedihan di wajahnya. Namun nenek dan kakeknya merasa cemas dan was-was. Takut jika ayahnya itu tidak mengenalinya lagi sebagai anaknya karena mengingat masa lalunya yang begitu kurang ajar terhadap istri dan mertuanya.Suka judi dan mabuk hingga pulang larut malam.Nenek dan kakeknya berharap ayahnya adit sudah bertobat.
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu adit telah tiba.Adit bersama nenek dan kakeknya tiba tepat didepan rumah ayahnya.Rumah sederhana dan terbuat dari bambu.Nenek dan kakeknya adit mencoba mengetuk pintu berulang kali.
“Assalamualaikum…” ucap nenek itu.
Seorang laki-laki keluar dari dalam rumah.
“Waalaikumsalam…” jawabnya.
Laki-laki itu terkejut dengan kedatangan seorang nenek dan kakek beserta anak kecil didepannya.
Nenek dan kakek itu tersenyum padanya.
“Itu bapakmu, nak…”  tukas nenek kepada adit.
“Bapak….”teriak Adit.
Adit langsung berlari dan memeluk ayahnya dengan penuh kasih sayang.Airmatanya bberlinang.Tangannya begitu erat memegang ayahnya seperti tidak ingin lepasnya darinya.Hati laki-laki itu luluh.Seolah Allah telah menaburi cinta dan sayang terhadap anak kecil itu.
Sekian

Puisi Corona Virus

JENGGALA BAGI CORONA VIRUS Dunia menjadi jenggala bagi virus corona yang merajalela Sedetikpun, ia tak akan berhenti bergerilya meracun...