Be Mine Love
“Lebih baik
aku mati, aku sudah kehilangan harkat dan martabatku sebagai seorang wanita
gara-gara cowok brengsek itu. Tuhan, kenapa semua ini harus terjadi pada
hidupku…aaaaaa” teriakku dengan penuh emosi.
Aku yang berdiri tegak diatas gedung sekolah.
Berniat ingin bunuh diri karena sebuah harga diri yang sudah tidak bisa
dihargai lagi. Ulahku sendiri karena memohon cinta yang tak pasti kepada
cowok yang aku cintai. Aku lupa
menghargai diriku hanya karena sebuah cinta.
Siswa-siswi dan guru-guru sudah saling berusaha
menenangkanku dari bawah gedung. Aku berusaha loncat dan mengakhiri hidup ini.
Tiba-tiba ada seorang cowok dari arah belakangku bergeming.
“Memang dengan
kamu bunuh diri, kamu bisa mengembalikan harga dirimu atau harkat dan
martabatmu yang selama ini terinjak-injak olehnya.” Kata
cowok itu.
Aku terdiam. Aku tetap kekeh berusaha menolak
kenyataan yang terjadi. Benakku memutar kembali peristiwa apa yang terjadi
sebelumnya. Semua terekam jelas tanpa buram sama sekali. Luka itu menyayat
hatiku sedalam ini.
Plakkk…
Tamparan itu menghempas pipiku yang kesekian
kalinya. Airmataku menetes pilu. Mahen masih menatapku penuh emosi. Aku
terjatuh tepat dibawah kakinya.
“Sudah berapa
kali aku bilang kita itu sudah putus sejak Anniversari jadian kita yang kemaren,
Shasa Sastranegara.” ujar dia tegas tanpa perasaan.
Aku berdiri dengan menguatkan hati yang begitu
rapuh. Bibirku kelu menatap dia penuh cinta. Ia membalikkan badannya untuk
pergi. Langkahnya pasti.
“Tapi
apa alasannya, kamu putusin aku begitu saja tanpa alasan yang jelas, hen.”
teriakku.
Mahen berusaha membalikkan badannya dan menatapku
dari jauh.
“Keadaan yang
membuat kita harus putus, kita sudah tidak sejalan lagi…”
tukasnya dengan penuh emosi.
Airmataku semakin deras. Andai dia tahu jika aku
masih mencintainya dengen sepenuh hati.
“Jangan ganggu
aku lagi, Shasa Sastranegara..” pintanya
penuh penekanan.
Hatiku semakin hancur dan patah. Kala itu juga, tiba-tiba
hujan jatuh membasahi bumi. Suara gemuruh hujan dan petir saling bersahutan. Mahen berlari
menembus hujan yang begitu deras. Sementara aku tersungkur ke tanah dan tak
berdaya dengan tangisan tak terbendung.
Mahen meninggalkanku sendirian di taman itu. Aku
yang masih memakai seragam SMA basah kuyup tanpa ada yang peduli. Tangisanku
semakin menjadi karena hatiku sudah berhasil dipatahkan oleh orang yang begitu
aku cintai. Padahal apapun aku lakukan untuk dia. Apa dia tidak ingat jika kita
pacaran sudah sejak kelas satu SMA. Dua tahun sudah kita jalani bersama namun
tiba-tiba dia berubah dengan sebuah alasan keadaan yang tak sejalan.
Sebelumnya dia memang memutuskan hubungan ini ketika
aniversari kedua kemaren. Tepat hari peringatan jadian kita Mahen mengakhiri
hubungan ini. Namun aku masih terobsesi bahwa Mahen adalah cinta sejati yang
selama ini aku cari. Entah mengapa hingga detik ini aku belum sempat move on darinya. Aku masih memohon dia
kembali.
Iya, mungkin aku adalah wanita yang tak punya harga
diri. Aku tidak bisa menghargai diriku sendiri hanya karena sebuah cinta tanpa
kepastian. Mungkin aku sudah gila dengan laki-laki itu. Sosok Mahen yang keren
dan dingin. Asal tahu saja, aku hanya ingin menuntut Hak atas cintaku
kepadanya. Aku tidak terima alasan dia mengakhiri hubungan ini.
***
Matahari tepat di atas kepalaku. Mataku berusaha menyelidik dan mencari
sosok Mahen di lapangan basket sekolah itu. Ini sudah memasuki hari ketujuh aku
memohon agar Mahen kembali padaku. Aku tahu seharusnya aku berhenti melakukan
tindakan bodoh ini. Aku merasa harga diriku sebagai seorang wanita sudah
diinjak-injak olehnya.
Hahaahahhahhaahhaah…..
Aku benar benar sudah gila. Tergila-gila atas nama cinta. Terobsesi yang aku
anggap sebuah cinta sejati. Aku menghela nafas perlahan dengan sebuah harapan
dia muncul dihadapanku.
“Sha…”
Sebuah suara lirih terdengar sayup. Aku terperangah dan berusaha memutar
kepalaku ke kiri. Aku kenal sekali suara itu. Iya itu suara Mahen dari arah
belakangku. Tiba-tiba tangannya menyentuh pundakku. Dia berdiri tegak
dihadapanku, wajahnya kelabu seolah dia tak ingin aku ganggu lagi. Tatapannya
tajam dan tiba-tiba dia tersenyum kecut padaku.
Mahen mengajakku ke perpus. Aku merasa ada sambutan cintaku kembali dalam
hatinya. Kita duduk di ruang baca. Aku merasa mendapatkannya dia kembali.
“Sha, aku bahagia sha…” cakap Mahen sambil senyum manis.
Aku sambut senyuman dia dengan penuh sukacita.
“Aku sudah mendapatkan penggantimu, Sha….” Lanjut Mahen.
Hatiku terasa tersambar petir ketika mendengar berita itu. Airmataku mulai
membasahi pipiku dengan diam seribu bahasa. Senyuman manis yang aku torehkan
tadi berubah sayu dan kecut. Tetesan airmataku mulai jatuh membasahi meja.
“Aku merasa nyaman dan bahagia banget sama dia, Sha. Aku percaya dia adalah
cinta sejatiku yang selama aku cari, setelah lulus nanti aku akan melamar dia
dan menikahinya” lanjut Mahen bercerita sambil menatap Shasha.
Aku hanya tersenyum namun airmataku mengalir deras didepannya. Isak tangisku
mulai bergemuruh. Hatiku hancur berkeping-keping.
Seharusnya sejak awal aku tak pernah berharap cinta yang sudah tak bisa
dipertahankan. Aku itu cuma ingin memperjuangkan hak asasi manusia atas cinta.
Hati perempuan mana yang tidak sakit ketika kekasih hatinya tiba-tiba
mengakhiri hubungan ini hanya karena keadaan yang menurut dia tak sejalan.
Sayangnya, Mahen tidak menjelaskan keadaan yang mana yang tak sejalan.
Menurutku alasan itu klise dan andai saja aku tak percaya bahwa dia bukan cinta
sejatiku, mungkin aku tak perlu mempertaruhkan harga diriku sebagai seorang
wanita.
Pevita-sahabatku tiba-tiba datang menghampiri kita. Aku langsung berdiri dan
memeluknya erat dengan tangisan yang menggebu.
“Sha, aku tahu betapa hancurnya
hatimu. Kamu sudah mempertaruhkan harkat dan martabatmu sebagai seorang wanita,
sabar ya Sha…” ceritaku kepadanya.
Aku melepaskan pelukan itu dan menatap Pevita penuh sendu. Seketika itu
Mahen berdiri dan menatapku tajam.
“Sha, kenalkan ini kekasih
kekasihku-Pevita…”terus terang Mahen.
Aku tersentak bagaikan serangan jatung seketika itu. Mulutku seolah tak bias
berkata-kata. Sementara airmataku semakin deras mengalir membasahi pipiku.
“Kamu tega ta, mengkhianati sahabatmu
sendiri. Padahal kamu tahukan harga diriku, harkat dan martabatku sebagai
taruhanya hingga aku tidak menghiraukan apa arti menghargai diriku sendiri
sebagai seorang perempuan, bahkan hanya gara-gara cinta ke cowok brengsek ini
aku lupa memanusikan diriku sendiri..” Marahku begitu penuh emosional dan
menatap Pevita penuh amarah.
Pevita hanya terdiam. Dia bingung ingin berkata apa untuk membela dirinya.
Mahen berusaha menyingkirkan dari hadapan Pevita namun aku berusaha
menghempasnya.
“Dan satu hal lagi, Ta. Kamu dan Mahen
adalah orang yang tidak bisa memanusiakan manusia lain walau itu sahabatmu sendiri…”
ujarku sambil menuding- nuding mereka.
“Semoga kalian bahagia, semoga Mahen
bias membuatmu bahagia dan tidak menduakmu seperti yang dilakukannya
kepadaku..” lanjutku penuh dengan kebencian.
Aku pergi dari tempat itu dengan perasaan begitu hancur yang lipat-lipat.
Rasanya dunia ini runtuh dan gelap. Aku menyesal telah memohon cinta pada
manusia yang aku anggap cinta sejatiku. Aku menyesal telah membiarkan harga
diriku diinjak-injak cowok itu. Harkat dan martabatku seolah sudah tidak
berharga lagi.
***
Pikiranku kembali
ke cowok misterius yang berusaha membuka pikiranku dari perbuatan bunuh
diri. Aku masih berada diatas gedung itu dan cowok itu masih dibelakangku
dengan segala ceramahnya.
“Tuhan tidak
akan menerima rohmu dan akan kamu tidak
akan pernah bahagia meskipun kau mati, masalah tidak akan selesai jika kamu
mati begitu saja, Shaha Sastranegara..” ucapnya.
Dia tahu nama lengkapku. Aku berusaha meliriknya.
“Siapa kamu….”
“Makanya jadi
cewek jangan gampangan…”
“Cukup…”
Aku memutarkan tubuh ini ke hadapannya. Aku berusaha
maju mengahmpiri cowok itu. Cowok cupu tapi penuh kahrisma. Bila terus ditatap
ia sangat amat tampan dibalik kaca matanya.
“Seharusnya
kamu bisa memanusiakan dirimu sendiri, tidak ceroboh mempertaruhkan harga diri
demi cinta. Cinta bukan segalanya namu hidup perlu cinta untuk saling
bahagia...” tukasnya pasti.
“Terus saja
mengolok-olokku..” ujarku.
“Lain kali
jadi cewek pandailah menghargai dirimu sendiri...”
cetus dia sambil meninggalkan ku secara perlahan.
Cowok itu berhenti bergerak dari langkahnya. Lalu
kembali memutarkan tubuhnya dan melempar senyum untukku.
“Oh ya,
kenalkan aku Aldo, aku murid pindahan dari Surabaya, salam kenal Sasha
Sastranegara….” lanjutnya lagi lalu pergi begitu
saja.
Aku mulai merenungkan semua perkataannya tadi. Aku
mulai gelisah dengan hidupku. Aku pun langsung tersungkur diatas gedung itu.
Mulai menangis lagi dengan apa yang barusan akan aku lakukan. Bunuh diri karena
cinta, seharusnya itu tidak pernah terjadi. Mulai detik ini, aku harus
pura-pura melupakan tidak pernah terjadi apa-apa dalam hidupku maupun cintaku
di masa lalu. Cukup, kali ini aku tersakiti olehnya.
_-Sekian-
Karya : Imam Aris Sugianto